About Me

Celebrity Tumblr Backgrounds

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Monday, July 25, 2016

Lubang Impian Para Lelaki


CERITA SEX : Lubang Impian Para Lelaki


ASIANPOKER88 : Cerita Tante – tanganku asik mengelus2 lubang impian dari setiap laki2 di dunia ini…kurasakan jembut tante desi yang tak begitu lebat tapi menggairahkan ku elus2 permukaan meqi tante desi dia mengelinjang menerima sernganku..daaaannnnn eeennnaakkk bggtttt kamu pinter sayaaanngg…suara nya terbatah2.tanpa nunggu waktu lama takut yg lain pada curiga langsung ku selipkan dua jariku ke dalam liang senggama tante desi…di waktu yang sama genggaaman tangan tante desi di otong ku mendadak mengeras sehingga kepala otong ku semkain mengkilap dan sedikit terasa sakit karna remasan nya yang kuat..dduuuhhhh saaaaayyynngggg enak bgttt…udah lama tante ga merasakan ini lg…

dia mencoba mengeluarkan sebelah payudara nya dari balik bra yang di gunakan malam itu..tnpa menunggu lama langsung ku hisap keras puting nya yg sudah segede ujung kelingkingku dan ku jilati dengan napsu..huuufffftttt eenaaakkkkk hisap yang keras sayang pinta tante desi…sementara tangan yang asik mengocok otongku tadi sudah berhenti karna keasikan menerima rangsanganku…tak hentinya2 tante mengerang pelan sambil sesekali menciumi telingaku…hhhhmmmffff kamu hebat bgt dan…tangan kamu nakal bgtttt….tanteee sukkaaa…itu yang di ucapkan tante ketika menciumi

telingaku..tak butuh lama buat wanita paruh baya ini mencapai puncak nya…tanganku yg asik di blaik leging tante di genggam erat kepalanya menengadah keatas aaakkkkhhh….tanteeee sampaaaaiiiiiiii aaaakkkkhhhh hhhmmmmmffff….cukup keras lenguhan tante tanpa mempedulikan sekitar pantat nya yg besar di angkat keatas sekaan inigin menelan jari2ku lebih dalam…sekitar 1.5 menit tante asik menikmati orgasme nya.akhitnya tubuh nya ambruk di atas kursi plastik yg di sediakan cafe ini…
ketika itu juga kulihat sekeliling,tetangga kiri dan kanan ku melihat perbuatan kami…tapi ah peduli amat,

lalu kuciumi lagi pipi tante dan kucabut tanganku dari meqi nya..tanganku di penuhi lendir kenikmatan yang kelaur dari meqi tante..tanpa pikir2 langsung ku jilati lendir2 itu tanpa rasa jijik..rasanya gurih tapi sedikit asin hahahha…
karna si otong belum puas ku arahkan lagi tangan tante ke si otong tante seakan mengerti dan mulai lagi mengocok2 dengan alur yg cepat….tante berhenti dlu biar dani ludahi dulu kontol nya…tapi di luar bayangku tante menampungkan tangannya di mulutku…dan menganguk,lalu kuludahi tangan

tante dan dia mulai lagi dengan aktifitas yang membuatku nikmat…uuuhhhhh tanteeee enak bgttt…yg kencang kocokan nyaa pintaku…karna terlalu lama seperti nya tante mulai capek…lalu dengan nekat nya kepala tante sudah berada di bawah…aakkkhh rasa nikmat ini basah lembut hangat menjalar di sepanjang batang kontolku…tante asik menaik turunkan kepalanya di atas rudalku…tidak sampai 10 menitan kontol ku merasakan mendekati puncak nya…ku belai kepala tante tanteeee,,dani mau sampaiiii aakkkhhh nikmatnya mulut mu tanteee…aahhh dani sampai tante…dan tanpa

mempedulikannya tante asik jg mengulum rudalku…akhirnya aakkkkhhhhhh rudalku menembakan peluru tajam nya ke dalam mulut tante ada sekitar 7 kali semprotan karna terlalu banyak mulut tante desi tak bisa menampung selurhnya hingga sebagian peju ku meleleh di sela2 bibir2nya…nikmat ucap tante desi dan menelan habis seluruh pejuku..
ternyata wanita yang menjada 4 tahun ini sungguh hebat dalam berhubungan…lalu setelah ngobrol2 ku lirik jam sudah menunjukan jam 10 dan tante ku ajak pulang…di perjalanan jaket yg ku pakai ku balikan ke depan sehingga tangan tante tersembunyi di dalam nya..sepanjang perjalanan tante asik mengocok2 penisku dengan lembut…dengan berbisik…tante suka bgt kontol kamu dan..gede hangat lagi…dlu mantan suami tante ga seperti ini…

dari sana aku mengetahui anak tante ada 3 yang pertama laki umur 23 th kerja sebagai sopir travel.yang kedua 21th sudah menikah dan tinggal di rumah sendiri sementar anak ketiganya masih duduk di salah satu sma di kota ku dan kelas 3…
sesampainya di rumah kurebahkan badan ini di kasur empuku dan saat ku liaht hp tante menigrim sebuah pesan..”tante puas bgt tadi sayang,udah lama bgt tante ga ngerasain itu lg” lalu kubalas”dani jg tante ampe skrng kontol dani masih menegang jika bayangin tante…pasti enak klo kontol dani masuk k meqi nya tante”iiihhh mauuuu bgtttt jawab tante di seberang sana…lalu kami mengatur janji…biasanya anak laki2 sabtu pagi sudah berangkat dengan mobil travel nya dan kembali senin.

setiap hari pasti ada saja ulahku untuk menggoda tante,dari meminta foto bugilnya,sampai foto lubang pantat nya…d saat itu dia kaget,kok minta foto itu dan,kan jorok…lalu dengan santai ku balas dani ga jorok kok malahan pengen jilatin sampe puas lobang pantat nya tante sayang ku ini…iiihhhhh cuma itu balasan tante desi.siang itu kotaku mendung seperti mau hujan,pasti enak nih ngopi sambil duduk2 di depan rumah ngeliatin lalu lalang orang yg buru2 takut keburu hujan.lalu pandangan ku tertuju pada seorang wanita setelah di perhatikan wanita ini mengarah jalan ke aras rumah ku…

ternyata itu tante wati tetangga ujung gang rumahku.memang tante wati ini sering berkunjung k rumah,tapi selama ini aku tak pernah memperhatikan nya,tapi kali ini berbeda,hari ini dia menggunakan daster panjang tapi seperti kekecilan hingga lekuk2 tubuh nya tercetak jelas di balik daster itu.yg ku perhatikan sepertinya tante ini tidak menggunakan celana dalam,dan payudaranya alaah maaakkk bikin si otong menegang tanpa aba2…setelah ku ketahui nanti ternyata payudara tante wati sekitar 36c.dan bongkahan pantat yang menggunung ke belakang…dan yg paling ku suka kerlingan mata tante wati ini klo melihat ke aras ku…seakan menyampaikan sesuatu…(hahahha gw ke gr an ini)

owh iya tante wati ini baru enikah 4 th ini skrng dia berumur 39th,ya tante wati menikah udah d umur yg agak tua menurutku…”mamanya ada dan..?ada tan di dalam lg masak”waktu tante wati menuju ke dalam tak henti2nya mataku memandangi bongkahan pantat tante wati yang menggunung itu,dalam sekejap aku ingin menciumi dan meremas2 penuh nafsu bongkahan itu…lagi asik2 nya menghayal hp ku berbunyi lg.ternyata dari tante desi.dan km lg apa udah mandi blom..?ayok buruan k rumah tante lg ga ada orang d rumah anak2 pada pergi…senang bercampur kaget langsung ku balas,iya tante dani mandi dlu tunggu yah…di blas lg.buruan ntar keburu pulang…

skip skip..akhirnya sampailah di depan tante desi..motor ku dorong ke samping rumah nya yang memang di sana ada gudang.supaya ga keliatan anak nya jika mereka pulang nanti…lalu kuketuk pintunya ketika tante desi membuka pintu aku sedikit terkejut dia hanya menggunakan handuk besar seperti habis mandi..tapi tetap saja handuk itu tak mampu menahan bongkahan dada dan pantat nya seperti ingin meloncat keluar…langsung ku masuk lalu ante melihat kiri kanan melihat supaya tidak ada tetangga yang memperhatikan…

ketika pintu di tutup tanpa nunggu lama langsung ku peluk dia dari belakang,aroma harum sabunnya menyeruak ke dalam hidungku ku hirup dalam2 dan ku kecup mesra pundaknya…tante sepertinya sudah siap tempur karna ketika ku remas pelan payudaranya tak ada apa2 lagi di blik handuk yg kekecilan itu..tanpa melepaskan pelukan ku ku tarik ke arah kursi tamu…ku balikan badan nya ketika sampai di kursi,bibirnya ku cium mesra sambil hisap kecil pinggir bibirnya..hmmmmmffff dannn ucap tante desi..cukup lama ku cimui bibir nya hingga tangan ku mencoba melepaskan lilitan handuknya.ternyata benar di balik handuk itu sudah tak ada apa2 lagi…

telanjang bulat lah tante desi di depan ku tanpa sehelai benang pun menutup tubuh semoknya ini…ku remas2 lembut payudaranya dan tangan ku yg lain memilin2 kecil puting susunya yang sudah sebesar kelingking…sepertinya tanganku tak cukup untuk menggengam kebesaran payudara tante desi…ciuman ku lama2 turun ke arah gundukan yang menggoda itu..ketika mulutku sampai di sana sontak tante desi meremas rambutku dari belakang..hhhmmmmfffff dannn assssshhhhh nikmat bgt…kukecup2 mesra sambil kugigit2 kecil puting yg menghitam itu…tante desi memekik kecil aaawwwwhhhhh…terussshhh dannnn iyyaaa…

gi giiittt teruusshhh…aakkkhhh…tangan tante desi juga tak kalah aktif dia mencoba membuka baju ku langsung tangan tante desi memainkan dan memilin2 puting susu ku…ke kamar aja yuk dan..takut nanti ada yg datang…tanpa menunggu komando di tarik tanganku ke kamar..ceklek pintu kamar di kunci ku rebah kan tubuh bugil tante desi..bibirku langsung menyambar buah dada yg mengiurkan itu tante desi cuma mengerang aahhhhkkk hhhmmmffff nikmatnya…cuma itu yg keluar dari mulut tante desi…lalu ciuman ku mulai turun ke bawah ke perut yg sedikit berlemak itu…

ku jilati sampai basah semu sisi perut nya..hingga dagu ku menyentuh semak2 yg menutupi rongga kenikmatanya..langsung ku turun kan mulutku mencar2i lubang yg membuat semua lelaki itu keenakan,tante desi langsung sadar di buka lebar2 kedua paha yg menggelembung itu jari ku menyibak kan bulu2 yg menututpi meqi tante desi..ku lihat di balik rimba itu ada bibir hitam mengelambir kecoklatan dengan isi yg kemerahan ku hirup dalam2 aroma lubang itu aaakkkhhh harum nya…lidahku menyapu pinggiran bawah meqi nya pantat tante desi tengakat ketika lidahku mampir d sana…akkkhhhh dannnn kamu apain pepek tante dann…ennyyaaakkk bangeeettt… akkhhhh tangan nya menekan erat kepalaku.ku selipkan lidahku ku dalam rongga itu ternyata tante desi sudah banjir terasa asin2 nikmat ketika lidah ku di sana…
lalu ku buka lagi lebih lebar di sana ku lihat ada gumpalan sebesar kacang tanah mencuat merah..kusambar lg klentit nya tante desi sedikit berteriak tante desi daaaannnn akkhhh ya sayang d sana…isep incek biji tante sayangg… (incek biji / klentit dalam bahsaa di kota ku) iya sayang incek biji tante keenakan sayang aahhhhh…hhhmmmfff…aaakkkhhhh ssshhhhhh dduuh cintaku sayang ku nikmat bgt…karna tak mau kalah ku hentikan jilatan ku di sana..tante desi terpana..lalu ku buka celana ku sampai tinggal celana dalam saja.tante desi mengerti di bukanya sempak ku..seketika meloncat lah si rudal sakti yang akan membuat nikmat tante desi…iiissshhh besar bgt sayaaannggg…

hangat lg…di jilati kepala kontolku dengan seksama seperti mengulum lollipop asik dengan kepala kontolku di hisap di emut sejuta rasanya…aahhkkkk tante enak bgt sayang..tangan ku tak mau kalah ku mainkan payudara yg sudah sedikit menurun itu karna sudah melahirkan 3 anak.ku remas2 pelan…tak lupa batangku di jilati hingga di kulum2 nikmat buah yg menggantung di bawah nya..


lalu tante desi melepaskan nya..masukan yah dann..tante udah ga tahan matanya sayu mengemis meminta kenikmatan yang akan kuberikan..tanpa menyuruh dua kali ku arahkan kaki ku ke dalam pahanya yg sudah mengangkang menerima serangan

 rudalku..ku usapkan di luar meqi nya..assshhhh jangaan siksaaa tanteeee dannn..cepaaatt masukiin aja sayaaanngg aahhhkkkk…slep kepala rudalku sudah menancap di sana ku lihat mata nya terbelalak ku majukan pelan2 pelan sekali aku ingin menikmati sensasi ketika rudalku berjalan di dalam rongga kenimkatan itu…ternyata tante desi sangat menikmati sensasi ini…hhhuuuffff di gigit bibir bawah nya menahan kenimatan rudalku..sayaaannnggg kamu pinterrrr tante nikmat bgttt cintaku…akkkhhh slep terbenamlah semua rudalku d sana..kehentikan sebentar terasa bgt meqi tante desi mengurut2 lembut rudalku mentok sampai ke bibir rahimnya tante melotot ketika semua rudalku masuk ksana..hhhhaaaahhhhhh hhhmmmmfff cuma itu yg tersisa di kamar indah ini..

seketika kamar itu berubah menjadi kamar penuh nafsu liar 2 insan yang sedang mencoba menggapai puncak kenikmatan ini…ku maju mundurkan rudalku..aahhhh tante desi meracau dengan bahasa daerah ku..godok dannnni gadaang banaaa…pepek tante lamaaakkk aahhh dannn goyang yang kancang sayaaanggg panuaaahhh rasonyooo pepek tantee dan entot tante dan goyang tante sayaaanggg…nikmati pepek tante daannn..buek tanteee manenmbak cintaku…(kontol dani besar sekali,meqi tante keenakan dan goyang yang cepat sayang penuh rasanya meqi tante entot tante goyang tante sayang nikmati meqi tante dan buat tante orgasme sayang itulah kira2 bahasanya) tak hentinya2 aku menggoyang..kepala tante bergerak liar kiri dan kanan tngan nya mencengkram lengan ku di remas2 keras dengna kuku2nya..akkhh dannn tante nikmat bgtt…

kontolmu pas bgt rasanya…iya tanteee meqi tante sempit bgt…pas bgt di kontol dani tan..akkkhhh meqi tante…ini meqi buat dani selamanya…ga boleh ga…iya syangku meqi tante memang buat kamu…nikmati sayag entoti trus…jangan berhentiii aaahhkkkk cintaku,,,ahhhkkkk hhmmmfff. tak sampai 10 menit pantat tante seakan menyambut sodokan ku…laing senggamanya berkedut2 aku tau ini puncak dari tante..dengan bersemangat ku goyang semakin cepat sehingga meningglakna bunyi cplak..plok..cplak…cplok…akhhhh akhh tante mau nembakk…akkhhh tante nembak sayanggg godok ang gadang bana dan ancuak tante dan antak kacnang2 dan…tanteee sampaiii aakkkkkhhhhh tante meracau liar dengan kasar…

badan nya melengkung ke atas tanganku di cengkaram kuat hingga meninggalkan bekas remasan oleh kukunya…matanya cuma keliatan putih kepalanya mellengkung ke atas..ahhhhkkkkkk sssuuuurrrrr terasaa semburan panas di batangku..dalam sekejap tante ambruk di kasur kenikmtan itu…keringat mengurucur deras di tubuh ku begitu juga tante…
ku tunggu tante meinkmati puncak2 orgasme nya lalu kublaikan tubuh tante ku angkat sedikit pantat bahenolnya tante desi…kusibak akn sedikit bongkahaan..dalam sekejap napsu ku meledak ketika melihat lubang pantat nya..tanpa nunggu lagi.

.ku julur kan dengan buas lidahku ke aras nya…tante desi setengah kaget tapi nikmat yang tiada tara ketika lidahku mendarat di sana akkkhhh dann jangaaannn jooorroookk sayaannngg jangaaan…napsu tante kembali memacu tak dapat membendung napsu ku jilati ku ciumi dan ku hisap dalam2 lubang pantat yang indah itu sperti melihat makanan terenak di dunia ku tusuk kan lidahku mencoba membuka lubang itu ingin ku masukan semua lidah ku ke dalam nya…akhhh cinnttaaakuu sayaaanngkuuu eeennyyaaakkkkk iiiissshhhh hhmmmmffff teruuussss…pertama kali tante merasakan ini.hhmmmfff nikmat bgttt hhhhaaaassss…

puas d sana kembali ku rahkan rudal ku ke meqi tante desi..sleeepppp masuk lah rudalku di sana…akkkhhhh mentookk bangeeett sayaanngg..aahhhhkkk…seperti tak mengenal letih pantat ku terus menggoyang pantat tante desi..akkhhh nikmaatt eenak nya di entott dari belakaangg kontol besar lagi mengentoodd ku dari belakang aakkkhhh entott aku tiap hari sayaangggg nikmati pepek kuu…pepek ini milik mu….akakhh cintakuuu teruussshhhhh ajngan berhentiiiii….aakkkhhh sayaanng kuu aakkkhh…cuma itu yg terdengar…pepek tante penuhhh akkkhh cintakuuu ..sayangkuuuu 15 menit goyangan ini kulancarkan..

seperti ada yg meledak di ujung rudal ku begitu juga tante…tanteee daniii mau sampaiii akakhhhh pepek ini nikmatnyaaaa aakkkhhhh meqi tante bener2 nikmaaaattt…iya sayaaanggg pepek tanteee juga nikmat bgtttt.tanteee juga mau sampaiii aaakkkhhh terusshhhh jangan berhentiiiii tak sampai 3 menit tak dapat lagi ku menahan ledakan ini…crooottt…crooott…crooott…ku hantam dalam2 rudalku ke dalam meqi tante…badan ku bergetar pandanganku melayang akkkkhhh tantteeeeeeeee….sedikit berteriak ketika mani kenikmatan ini lepas tak selang berapa lama tante pun melenguh..akkkkhhh tan teee ssaammm pppaaaiiiiii juuugggaaaaa aaakkkkhhhhh..

pantat nya di angkat ke atas setinggi2 nya menjemput rudalku..akkkhhh….akhirnya tubuh kami sama2 ambruk di atas kasur itu…ku rebahkan tubuhku di sampingnya…terimaksih tante ku sayang..nikmat bgt iya dani kontol mu juga nikmat bgt penuh sesak pepek tante dan…ku ciumi keningnya matanya bibir nya..sesaat kami sama2 melepas lelah..
lalu kami mengobrol2 ringan tapi tangan tante desi tak lepas dari rudalku…

tak sampai 10 menit si rudal kembali mengeras…dengan tetap berbaring ku angkat tubuh tante desi..ku suruh dia mengangkangi kepala ku dengan pantat menduduki mukaku..langsung ku tusuk2 lubang pantat nya dengan lidahku dengan ganas nya…siang itu kami kembali merenguh kenikmatan sampai tak terasa hari jam 5 sore…tante sangat ketagihan akan rudalku begitu juga dengan ku yang tak pernah puas dengan tempik nya tante desi…
========================================================================
http://bit.ly/29Gn40b sabung ayam                                  http://bit.ly/2ad5CG8 poker

Sunday, July 24, 2016

COBA COBA JADI BERONDONG/GIGOLO

CERITA SEX : COBA COBA JADI BERONDONG/GIGOLO



ASIANPOKER88 : Sebut saja dia Tante Yulia, dia juga wanita chinese yg berusia hampir 50, sebaya dengan Tante Nindi hanya beda 1 atau 2 tahun saja yg sudah ditinggal suaminya karena wanita lain. Postur tubuhnya juga tdk jauh dengan Tante Nindi, agak gemuk hanya saja Tante Yulia lebih pendek dari Tante Nindi dan wajahnya juga lebih kelihatan tua karena tampak kerutan-kerutan diwajahnya mungkin terlalu banyak pikiran.

Cerita Sex Terbaru | Waktu itu dia sedang jalan sendirian akan makan dan kebetulan ketemu dengan kami yg akhirnya dia diajak bergabung oleh Tante Nindi, dan aku dikenalkan oleh Tante Nindi kepadanya sebagai keponakan jauhnya. Setelah makan kami melanjutkan perbincangan sambil jalan melihat-lihat barang di toko-toko yg ada dimall itu.

Entah apa yg dibicarakan oleh mereka berdua secara bisik-bisik karena aku lihat lirikan Tante Yulia yg melihat aku sambil senyum-senyum, dan setelah itu dia sering mencuri-curi pandang melihatku. Setelah lelah jalan-jalan dan hari mulai sore Tante Yulia akhirnya pulang.

“Oke, Nin. Aku pulang dulu ya, hampir sore nih. Sampai ketemu lagi Edo” kata Tante Yulia sambil tersenyum penuh arti kepadaku yg membuat aku tambah bingung dan dia melenggang menuju carcall untuk memanggil sopirnya.

Sepeninggal Tante Yulia kami menuju food court untuk membeli minum dan istirahat.

“Fer, menurut kamu Tante Yulia gimana?” tanye Tante Nindi padaku setelah membeli minum dan duduk ditempat yg agak memojok dan meminum minumannya.
“Mmm.. gimana apanya Tante?” jawabku bingung mendengar pertanyaan Tante Nindi sambil menyedot minuman ringan yg aku pesan.
“Ah kamu ini, pura-pura nggak ngerti apa emang nggak ngerti? Ya sifat orangnyalah, bodynyalah, facenyalah dan lain-lainnyalah” jawab Tante Nindi agak sewot.
“Oo, kalo sifatnya sih saya belum tau bener, kan baru sekali ketemu, tapi keliatannya orangnya baik dan ramah, terus kalo face dan bodinya mm.. biasa-biasa aja tuh” jawabku sambil tersenyum.

“Emang kenapa Tante, kok Tante tanya gitu? Bikin aku bingung aja. Terus tadi ngomongin apa sih? Kok pake bisik-bisik terus Tante Yulia jadi aneh sikapnya” tanyaku pada Tante Nindi.
“Fer, kamu tahukan kalo Tante Yulia itu sudah lama hidup sendiri sejak pisah sama suaminya. Nah tadi waktu Tante Yulia lihat kamu dia langsung terYuliak sama kamu, dan dia nanyain tentang kamu terus ke Tante sebab dia nggak percaya kalo kamu itu keponakan jauh Tante, jadi Tante terpaksa cerita dech kedia siapa kamu sebenernya. Kamu jangan marah ya, abis Tante Yulia itu suka maksa kalo keinginannya belum kesampaian” jawab Tante Nindi.

“Terus.. mm.. dia pengen sama kamu Fer.. gimana? Kamu mau nggak?” tanya Tante Nindi dengan wajah serius.
“Wah gimana ya, repot juga nich kalo sampai dia ngomong-ngomong ke orang lain, bisa tercemar nama Tante. Kalo menurut Tante dia bisa jaga rahasia kita dengan cara gitu ya sudah, saya akan layani dia” jawabku serius juga.
“Tapi nanti kamu jangan lupain Tante ya kalo sudah dekat sama dia” kata Tante Nindi was-was.

“Ah Tante ini ada-ada saja, nggak mungkinlah saya lupa sama Tante, sayakan kenal Tante dulu baru Tante Yulia” jawabku menghibur Tante Nindi yg terlihat agak sedih dari ekspresi mukanya.
“Yah.. sapa tahu kamu bisa dapet lebih dari Tante Yulia dan lupain Tante deh” katanya lagi sambil menghembuskan nafas.
“Jangan kuatir Tante, saya bukan tipe orang yg gampang ngelupain jasa baik orang kepada saya, jadi Tante tenang saja” jawabku kemudian.
“Okelah kalo gitu nanti Tante hubungi Tante Yulia, biar dia nanti hubungi kamu” kata Tante Nindi kemudian.

Setelah itu Tante Nindi lebih banyak diam entah apa yg ada dalam pikirannya dan tak lama kemudian kamipun pulang.

Malamnya Tante Yulia menghubungi aku lewat telepon.

“Hallo Edo, ini Tante Yulia masih ingatkan?” tanya Tante Yulia dari seberang.
“O iya masih, kan baru tadi siang ketemu, ada apa Tante?” jawabku sambil bertanya.
“Tadi Tante Nindi sudah cerita belum sama kamu tentang Tante?” tanyanya lagi.
“Sudah sih, mm.. memang Tante serius?” tanyaku lagi pada Tante Yulia.
“Serius dong, gimana kamu okekan?” tanya Tante Yulia lagi.
“Kalo gitu oke dech” jawabku singkat.

Lalu kami bercakap-cakap sebentar dan kami akhirnya kami janjian besok pagi dilobby hotel “XX” didaerah jakarta barat dan dia akan datang lebih awal karena akan check-in dulu, setelah itu teleponpun ditutup. Keesokannya seperti biasa aku memakai baju rapi seperti orang kerja supaya tdk terlalu menyolok dan aku menunggu di lobby hotel tersebut karena aku juga datang lebih awal, tak lama aku menunggu teleponku berdering.

“Hallo Edo, ini Tante Yulia. Tante sudah ada diatas, kamu langsung naik aja di kamar 888 oke? Tante tunggu ya” kata Tante Yuliamemberitahukan kamarnya.
“Oke Tante saya segera kesana, saya juga sudah di lobby” jawabku singkat dan menutup pembicaraan.

Setelah mematikan teleponku agar tdk diganggu, aku naik lift menuju kamar Tante Yulia. Sampai didepan pintu kutekan bel dan Tante Yulia membukakan pintu.

“Yulia masuk, udah daritadi Tante sampai dan langsung check-in. O ya, kamu mau minum atau mau pesan makan apa? tadi sih Tante sudah pesan makan dan minum untuk dua orang, tapi kalau kamu mau pesan yg lain pesan saja, jadi sekalian nanti diantarnya” kata Tante Yulia sambil mempersilahkan aku masuk dan menutup pintu.

“Yah sudah kalau Tante sudah pesan, nggak usah pesan lagi, nanti kebanyakan makanan malah bingung” jawabku.
“Kok bingung kan buat gantiin tenaga kamu he he he” jawab Tante Yulia bercanda.

Kemudian Tante Yulia duduk di sofa besar yg ada didalam kamar itu dan aku duduk di sebelahnya, kami berbincang-bincang sambil menonton TV lalu aku mendekati Tante Yulia dan memeluk pundaknya, kemudian Tante Yulia merebahkan kepalanya kepundakku, kubelai rambutnya dan kukecup kening Tante Yulia.

“Mmm.. kamu romantis ya Fer, pantes Nindi suka sama kamu. hh.. sudah lama Tante nggak merasakan suasana romantis seperti ini” kata Tante Yulia sambil menghembuskan nafas.
“Ya sudahlah Tante, yg penting hari ini Tante akan merasakan hangat dan romantisnya cinta, karena hari ini aku milik Tante sepenuhnya” jawabku menghibur dia sambil kukecup lagi keningnya.

Tante Yulia menatapku sendu sambil tersenyum.

“Terima kasih sayang” kata Tante Yulia.

Dan kutatap matanya yg sendu dalam-dalam lalu kukecup bibirnya.



Kecupanku dibibirnya perlahan berubah menjadi ciuman lembut yg dibalas Tante Yulia dengan lembut juga, sepertinya Tante Yulia benar-benar ingin merasakan nikmatnya berciuman yg sudah lama tdk dirasakannya. Kami saling cium, saling kulum, dan saling memainkan lidah kemulut pasangan kami. Kugelitik lidah Tante Yulia dengan lidahku dan kusapu langit-langit mulutnya sambil kupeluk tubuhnya dan kuraba wajah dan tengkuk serta lehernya dengan tanganku yg lainnya.

“Ahh sayang, aku suka sekali ciuman kamu, mm.. ciuman kamu lebut dan merangsang, mm.. kamu memang pintar berciuman, ahh.. aYulia sayang beri Tante yg lebih dari ini” kata Tante Yulia disela-sela ciuman kami dan berciuman lagi.

Tanganku mulai bergerak meremas kedua payudara milik Tante Yulia bergantian. Tapi aksi kami terganggu oleh pelayan yg mengantar makanan yg dipesan oleh Tante Yulia. Setelah pelayan keluar dan Tante Yulia memberikan tip, tiba-tiba Tante Yulia menabrak aku dan mendorong aku hingga terjatuh diatas tempat tidur dan dengan buas dia langsung memelorotkan celana dan celana dalamku, hingga k0ntolku yg masih tidur terbebas dari sarangnya dan langsung diterkam olehnya. Disedot, dikulum dan digigitnya k0ntolku yg mulai bangkit dengan napsu dan buas, dan kedua tangannya tak henti-henti mengocok dan memainkan kedua bolaku.

“Ahh Tante.. pelan-pelan Tante.. ahh.. enak sekali Tante.. ohh” desahku menahan nikmat yg diberikan oleh Tante Yulia padaku.

Tanganku hanya bisa meremas rambut Tante Yulia dan seprei kasur yg sudah mulai berantakan, tak lama kemudian kulepaskan kepala Tante Yulia dari k0ntolku, kuangkat Tante Yulia dan kurebahkan dikasur.

“Sekarang giliranku, Tante diam saja dan nikmati permainan ini ya” kataku sambil mengecup bibir Tante Yulia dan mulai mencumbu Tante Yulia sementara Tante Yulia hanya diam saja sambil menatapku dengan sendu.

Kumulai cumbuanku dengan menciumi bibirnya dan perlahan turun kelehernya sambil kubuka kancing baju Tante Yulia satu persatu sambil terus turun kedadanya. Setelah kancing bajunya terbukan semua, kuraih pengait BH yg ada dibelakang dan kubuka sehingga ikatan BHnya terbuka dan ku lepaskan BH Tante Yulia lewat kedua tangannya tanpa melepas baju Tante Yulia, setelah lepas langsung kuciumi kedua payudara Tante Yulia, kuciumi seluruhnya kecuali putingnya yg sudah berdiri mengacung minta dikulum tapi tdk pernah kukulum, setiap kali ciuman dan jilatanku sudah dekat dengan putingnya ciuman dan jilatanku turun lagi kepangkal payudaranya dan terus turun sampai ke perut dan bermain-main dipusar sambil kujilati lubang pusar Tante Yulia lalu naik lagi terus berulangkali, kusingkap rok yg dipakai oleh Tante Yulia kemudian tanganku mulai bekerja meraba-raba paha dan lutut Tante Yulia lalu mulai melepaskan celana dalam yg dipakai oleh Tante Yulia.

Ketika permainan mulutku mencapai perutnya kuYuliak celana dalam Tante Yulia, dan Tante Yulia mengangkat pantatnya sehingga celana dalamnya dengan mudah lepas dari tempatnya. Kupelorotkan celana dalam Tante Yulia sampai sebatas lutut lalu ciumanku naik lagi kearah payudaranya, dan ketika jilatanku mendekati puting Tante Yulia tangankupun mendekati memek Tante Yulia dan ketika bibir dan lidahku mulai memainkan puting Tante Yulia tangan dan jari-jariku juga mulai bermain dibibir memek Tante Yulia yg ternyata sudah basah. Ketika kukulum puting Tante Yulia yg sudah berdiri dari tadi kumainkan juga kelentitnya dengan jari-jari tanganku yg seketika itu juga membuat tubuh Tante Yulia melengkung keatas.

“Akhh.. Edo.. kamu benar-benar gila sayang, kamu kejam sekali mempermainkan Tante.. akhh.. Edo enak sekali sayang.. akhh.. gila.. kamu bener-bener gila sayang” teriak Tante Yulia histeris sambil tangannya meremas seprei dan rambut kepalaku bergantian.

Tak kuhiraukan teriakan Tante Yulia dan aku terus mengulum kedua puting dan menjilati kedua payudara Tante Yulia bergantian. Tak lama kemudian kurasakan memek Tante Yulia bertambah basah dan tubuhnya mulai bergetar keras yg disertai erangan-erangan, akhirnya Tante Yulia mendapatkan orgasme pertamanya.

Pada saat tubuhnya mulai tenang, kulepaskan cumbuanku di payudaranya dan langsung kuangkat kedua kakinya sehingga kepalaku dengan mudah menuju kememeknya dan langsung kujilat dan kukulum serta kusedot-sedot memek dan kelentit Tante Yulia.

“Akhh.. ahh.. gila.. ini namanya penyiksaan kenikmatan.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. aku nggak kuat lagi sayang.. ahh.. terus sedot yg kuat sayang.. ahh.. tusuk dengan jarimu sayang.. ahh.. tusuk yg kuat.. ahh sayang.. Tante mau.. ahh.. mau dapet lagi sayang.. ahh.. kamu benar-benar gila” teriak Tante Yulia histeris memohon, lalu tubuhnya mulai bergetar lagi merasakan orgasme kedua yg datang menghampirinya.

Kuturuti permintaanya dengan menusukan jariku dan kumainkan jariku dengan menyentuhkan jariku kedinding memeknya yg berkedut-kedut sambil terus bibir dan lidahku memainkan perannya dikelentit Tante Yulia. Tubuh Tante Yulia bergetar keras dan pinggulnya bergoyang-goyang mengikuti irama tusukan jariku sambil tak henti-hentinya menjerit-jerit histeris sambil kedua tangannya meremas dan menjambak-jambak rambutku.

“Ahh.. Edoy.. sayang.. ahh.. enak sayang.. ahh.. sodok yg keras sayang.. ahh.. sedot itilku yg kuat.. ahh.. yg kuatt.. ” jerit histeris Tante Yulia mengantar orgasmenya yg kedua itu.

Dan ketika tubuh Tante Yulia sudah hampir tenang lagi, kuhentikan juga semua aktivitasku dan kulepas celana dalam Tante Yulia yg masih sebatas lulut sehingga lepas semua, lalu kuatur posisiku dan kutusukkan k0ntolku kedalam lubang memek Tante Yulia.

“Okhh.. jangan dulu sayang.. jangan.. ahh.. stop sayang.. stop.. biar Tante istirahat dulu” pinta Tante Yulia padaku, tapi aku tdk menghiraukan permintaanya sambil terus kutusukan k0ntolku sampai masuk seluruhnya dan mulai kugoyang, kuputar dan kukocok k0ntolku dalam memek Tante Yulia.

Tak lama kemudian kuangkat tubuh Tante Yulia hingga posisi Tante Yulia kini dalam pangkuanku, dan dalam posisi Tante Yulia sedang menaik turunkan pantat dan menggoyangkan pinggulnya kulepas baju Tante Yulia yg masih melekat dan kulemparkan entah kemana lalu kubuka pengait dan resleting rok Tante Yulia dan kulepas rok Tante Yulia dari atas dan kulemparkan juga entah kemana hingga kini tdk ada selembar benangpun yg menempel ditubuh Tante Yulia lalu akupun melepaskan bajuku sendiri dan kulemparkan sembarangan. Setelah melepaskan baju mulai kuputar-putar pantatku hingga k0ntolku lebih menggesek dinding memek Tante Yulia.

“Akhh.. sayang.. ahh.. kamu memang gila sayang.. ahh.. kamu.. ahh.. kamu memang gila.. ohh.. k0ntol kamu benar-benar.. ahh.. kamu pintar sekali sayang.. pintar dan gila.. ahh.. Tante mau.. ahh.. mau keluar lagi.. ahh.. Tante nggak kuat lagi sayang.. ahh” jerit Tante Yulia histeris dan tubuhnya mulai bergetar mendapat orgasmenya yg ketiga, kurasakan cairan diliang memek Tante Yulia bertambah banyak dan kurasakan juga kedutan-kedutan dari dinding memek Tante Yulia.

Lalu kurebahkan tubuh Tante Yulia dan terus kugenjot k0ntolku didalamnya yg sekali-kali kuputar-putar pinggulku, tubuh Tante Yulia tambah bergetar dengan kencang, goyangan dan kocokan k0ntolku juga tambah kencang, lalu kumainkan tanganku dikelentitnya sambil kurebahkan kepalaku kedadanya dan kusedot dan kukulum dengan kuat juga kedua puting Tante Yulia bergantian dan kedutan-kedutan dinding memek Tante Yulia juga bertambah kuat sehingga k0ntolku merasakan sensasi yg membuat aku merasakan sesuatu yg akan segera meledak keluar.

“Akh.. Tante aku mau keluar Tante.. akhh.. aku keluar Tante” kataku disela-sela kuluman mulutku diputingnya sambil terus mengocok k0ntolku dengan cepat dan kuat dalam liang memek Tante Yulia.
“Ahh.. iya sayang.. ahh.. keluarkan saja.. ahh.. Tante juga.. ahh.. sudah nggak kuat lagi.. ahh” teriak Tante Yulia dan memelukku dengan erat sambil tubuhnya terus bergetar, kurasakan kuku-kukunya mencakar punggungku.

Lalu meledaklah cairan kenikmatan yg kukeluarkan dalam memek Tante Yulia yg sudah basah sehingga bertambah basah lagi, ketika kenikmatanku meledak dan tubuhku bergetar kenikmatan kukocok dengan keras dan kuat k0ntolku dalam memek Tante Yulia sehingga ada cairan yg keluar dari dalam memek Tante Yulia yg kurasakan dari tanganku yg basah karena masih memainkan kelentit Tante Yulia. Tubuh kami sama-sama bergetar dengan kencang, keringat kami bersatu dan seluruh ruangan dipenuhi oleh suara erangan dan jeritan kenikmatan yg kami dapatkan pada saat bersamaan.

Setelah tubuhku dan Tante Yulia mulai tenang kembali, kulepaskan k0ntolku dari memeknya yg sudah sangat basah, lalu kubersihkan memek yg penuh dengan cairan kenikmatan kami berdua dengan sedotan dan jilatanku, kujilati sampai bersih dan sayup-sayup kudengan erangan pelan Tante Yulia yg memejamkan matanya merasakan kenikmatan yg baru saja dia dapatkan. Setelah bersih kurebahkan tubuhku disamping Tante Yulia, lalu kupeluk dia dan kukecup pipi Tante Yulia.

“Ahh.. terima kasih sayang.. terima kasih daun mudaku.. uhh.. rasanya tubuhku ringan sekali bagaikan kapas yg masih terbang diawang-awang, ahh.. nikmat sekali tadi kurasakan, kamu memang pintar sayang, baru sekali ini kurasakan orgasme beruntun seperti tadi, sampai lemas tubuh Tante” kata Tante Yulia sambil membuka matanya dan tersenyum padaku.
“Ah Tante Yulia bisa aja.. aku juga tadi nikmat sekali, kedutan dinding memek Tante Yulia membuat k0ntolku merasakan seperti diremas-remas, nikmat sekali” balasku sambil kuusap keringat yg ada di keningnya dan kukecup kening Tante Yulia,

lalu aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh yg penuh dengan keringat dan disusul oleh Tante Yulia dan kamipun saling membersihkan tubuh.

Selesai membersihkan tubuh dan dalam keadaan masih bugil kami lalu menyantap makanan yg tadi dipesan oleh Tante Yulia sambil bercakap-cakap dan bercanda, sedangkan tangan Tante Yulia tdk pernah lepas dari selangkanganku. Selesai makan kami melanjutkan percakapan kami diatas tempat tidur sambil saling memeluk hingga akhirnya kamipun tertidur untuk memulihkan tenaga yg akan membuat pertarungan berikutnya lebih seru lagi. Dan mulai sejak itu jadilah aku daun muda kesayangan Tante Yulia dan Tante Nindi.
========================================================================
http://bit.ly/29Gn40b sabung ayam                       http://bit.ly/2ad5CG8 poker


Saturday, July 23, 2016

Pacar Yang Nafsu Besar


CERITA SEX : Pacar Yang Nafsu Besar


ASIANPOKER88 : Rahma (nama samaran) gadis yang malang penuh dengan siksaan dan paksaan orang tua, yang akhirnya terjun kedunia hitam jadi bulan- bulanan nafsu sex para lelaki hidung belang. Rahmah tidak tahu kemana lagi mengadukan nasipnya, hanya di benaknya bagaimana bisa makan dan tidur. Ramah coba-coba ingin merubah nasip menjual diri di cafe-cafe? dengan. Hal ini Ramah menceritakan kisahnya pada penulis. Di suatu malam yang sangat dingin, hujan grimis mengguyur tubuh penulis yang saat itu melintas di ruas Jalan Marelan tiba-tiba tidak di sengaja terlihat seorang gadis yang menggunakan gaun tembus pandang.

Tubuhnya yang mungil dan cantik di terpa angin yang kencang. Sekali-sekali dirinya menggigil menahan dinginnya cuaca malam itu. Penulis yang masih terus penasaran melihat tindakan gadis tersebut. Terlintas juga dalam benak penulis “gadis cantik seperti itu lagi ngapain di muka cafe ? sementara di dalam caf? pengunjung sepi ” inilah yang terlintas dalam benak penulis. Akhirnya penulis mencoba memberanikan diri menyapa gadis yang memakai baju warna putih tembus pandang. “HaiO lagi ngapain mbak ? dia mejawab dengan ramah ” ngga ada, cuman nongkorong doang.” Selanjutnya penulis mengenalkan diri pada gadis cantik tersebut mengaku namanya “Ramah”.


Kurang lebih limabelas menit dimuka cafe, penulis mengajak gadis itu kedalam cafe. Sesampainya dalam caf? penulis menanyakan “Ramah minum apa ? ” dijawabnya terserah apa aja bang. Pelayan caf? juga tiba di muka kami, yang tidak kalah sexsi dan cantiknya dari Ramah memakai rok mini di atas lutut. Pelayan caf? sangat ramah juga genit, sekali-sekali tangannya suka menggoda dan merabah-rabah paha pengunjung. Hujan grimis masih membasahi jalan raya, cuacapun semakin dingin, pengunjung caf? sudah kosong, tinggal kami berdua dan dua orang pelayan cafe, saat itu jam 1.30 Wibb. Ramah yang dari tadi hanya tertunduk sepertinya butuh perhatian, sekali-sekali Ramah menebarkan senyum yang menggoda.
Panjang lebar cerita hujanpun tidak kunjung berhenti, minuman Jus sudah habis, pemilik caf? menyhiapkan barang-barangnya untuk tutup. Ramah mulai buka cerita dengan sifat yang agak malu- malu, sambil mengatakan “bang cafenya sudah maututup kita cek in yo? ” mendengar ajakan Ramah penulis terdiam sejenak. Ramah sepertinya tidak habis pikir, kenapa saya tidak mau menjawabnya. Ramah bertanya lagi ” bang ayo donkO! aku mau cerita lebih jauh lagi ama abang. Akhirnya aku kabulkan ajakan Ramah karena penuh dengan harapan akan mendapat cerita dari Ramah. Akhirnya kami bergegas mau pergi, pemilik caf? langsung menegur “abang mau pulang ? aku jawab ia tante.

Nanti sakit, inikan masih hujanO! Aku jawab “kayaknya hujannya ini lama tante”. Kami pulang tante ? di jawabnya iaO! Hati- hati di jalan licin bang. Aku jawab lagi ia tante. Kami langsung menuju ke arah Simalingkar salah satu caf? and bar dekat Hotel Royal Sumatera. Sewaktu dalam perjalanan Ramah memeluk aku sangat kencang sepertinya takut kehilangan. Dalam perjalan itu aku bertanya “Ramah kamu cantik, kok maunya kerjaan seperti ini ? ” Jawab Ramah “bang kalau masih ada kerjaan yang lebih hina dari sini akan kurjakan walaupun itu pahit. Maksud Ramah gimana ? Ramah juga tidak mau kerja ini tapi orang tua Ramah sendiri menghancurkan masa depan Ramah. Ramah tidak diterima dilingkungan keluarga lagi bang.

 Kalau kuceritakan kehidupan aku mungkin satu malam ini belum selesai. Tapi itupun kalau abang mendesakku nanti ada waktunya bang, Ramah akan ceritakan semuanya buat abang. Kamipun sampai dalam tujuan, aku kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicaf? tersebut. Sesampainya dicafe Ramah langsung didekati seorang laki-laki separuh baya yang notabenya om-om. Yang pasti aku tidak tahu persis apa cerita orang itu, hanya melihat Ramah dipeluk silaki-laki tadi dengan erat sambil mencium bibir Ramah di tengah-tengah lampu yang samar-samar. Lanjut cerita gadis malang itu mulai bergegas mau pergi bersama silaki-laki yang kehausan nafsu dengan kondisi setengah mabuk.

Sebelum pergi Ramah mendekatiku sambil mengatakan “bang Ramah mau pergi, pokonya besok aku hubungi abang, ok bang ?” aku mengiyakannya. Ramah langsung pergi menaiki mobil laki-laki itu untuk meninggalkan caf?. Akupun tidak tinggal diam untuk melacak mangsa tulisanku luput sampai disitu. Kupanggil pelayan caf? untuk membayar minuman. Tapi lain jawaban pelayan “bang minumannya sudah dibayar om tadi”. sebelum pergi meninggalkan caf? kuberikan tip sama pelayan caf? yang menemaniku untuk pamitan pulang. Sampai dimukan caf? kuperhatikan mobil laki-laki itu kemana arahnya.

 Kuikuti dari belakang sampai mobil itu belok kesalah satu tempat penginapan yang berkelas di Simalingkar. YaOkutinggalkan setelah dapat kepastian mereka menginap di hotel tersebut. Sesampainya di simpang kampus Universitas Sumatera Utara (USU) aku berhenti di satu caf? kecil minum (TST) Teh Susu Terlor. Cerita Sex Selama satu jam aku di caf? itu, tiba-tiba ponselku bunyi dengan nada panggilan. Kuangkat poselku kulihat nomornya sepertinya tidak aku kenal. Aku sempat kaget tengah malam kegini siapa lagi yang menghubungiku terlintas dalam benak aku. Ponsel berbunyi terus kubiarkan sampai tiga kali panggilan baru kuangkat.




Sangat kaget mendengar sautan dalam posel itu terdengar suara perempuan baru kukenal. Menjawab pertanyanku dengan manja sambil mengajak aku untuk menginap. Mendengar ajakan ini aku tidak percaya bahwa Ramah mau menginap bersamaku, sementara dianya masih bersama laki-laki barusan 2 jam kutinganggalkan. Ramah mengatakan kalau laki- laki tadi tidak bisa menginap sampai pagi, karena takut ketahuan sama istri dan anaknya. Aku tanya ini no HP siapa ? Ramah jawab om tadi kupinjam. Kutanya lagi berarti dia masih ada di ruang kamar ? Ramah menjawab ia, tapi dia udah mau pulang bang, abang datang ya ? aku tunggu Ramah tidak ada kawan, cepat donk bang.

Desakan ini aku tidak mudah terpengaruh, karena takut ada kejadian yang tidak di inginkan nanti. Kurang lebih 30 menit hari hampir pagi jam 4.23 Wibb aku menghubungi Ramah melalui ponselnya. Ramah mengangkat dengan nada kesal “abang dimana kok ngga datang ?. cepat donk aku tidak ada kawan nihO!. Akhirinya aku beranikan diri balik lagi kehotel tersebut. Kuperhatikan mobil silaki-laki setengah baya yang tadi kutinggalkan di tempat parkir, memang tidak ada. Aku tanya langsung pejaga hotel, menjawabnya sudah pulang bang, abang itu tiap menginap di hotel ini sampai jam 3.00 Wib saja bang. Abang mau ngapain ? kujawab dengan nada yang ramah dan sopan “aku barusan di hubungi cewek kawan bapak tadi.

belum habis aku ngomong langsung penjaga itu potong Ramah bang ? katanya, ia bang. Ada di kamar 19, masuk aja bang, ngga apa-apa itu disini bisa kita jaga kemanan. Ok bang terimakasih yang bang, aku balik jawab. Langsung menuju kekamar no 19 kuketuk pintu kamar langsung di buka gadis seorang diri dengan mengenakan gaun tidur tembus pandang. Sepertinya Ramah tidak memakai BH als pembalut buah dada, hanya segi tiga transparan yang nampak. Mulai dari ujung rambut kuperhatikan sampai ujung kuku serta seisi dalam kamar itu sebulum masuk. Diperselakan masuk sambil menarik tanganku kedalam, “kok takut-takut masuk donk bang, ngga apa-apa kok”.

Tanggan Ramah yang nakal hampir membuat aku jadi tidak terkontrol. Ramah memang cantik, putih dan seksi tidak di temui satupun bekas luka ditubunya. Tangannya yang mulus, lembutnya belain penuh dengan rasa sayang. aku tertunduk sejenak di pinggir tempat tidur sambil mengisap rokok Sampoerna, sementara Ramah tidur dipagkuan aku sambil memeluk pinggangku. Rokok sudah habis aku ambilkan tas kecilku yang di dalamnya ada alat perekam suara, langsung kuhidupkan. Ramah memang nakal, mau tahu aja apa isi dalam tas aku. Dia mengambilnya dan mengeluarkan tipe rekamannya, memutar balik isi kaset.

 Baru Ramah tahu mulai dari perteman tadi dianya ngomong aku rekam. Saat itu juga gadis yang seksi, manja mencubitku dengan kesal. “abang kok tega kali merekam suara Ramah, untuk apa bang ?, abang wartawan ya ? jahat abang, aku ngga mau lagi cerita ama abang. Rupanya abang wartawan pantasan abang mulai dari tadi ngebutkali mendengar kisah Ramah kenapa terjuan kedunia malam”. Ramah yang dari tadi nakal, kontan langsung terdiam dan membelakangi aku. Sementara radio rekamannya dia pegang, aku minta dia ngga kasih. Bahkan dia mengatakan “abang puas ya menanyai Ramah hanya untuk kesenangan abang, malunya untuk ramah, berarti abang ikut donk menghancurkan Ramah dan mempermalukan ramah di muka umum”.


Aku berusaha meyakininya dengan rasa sayang, kukecup pipinya yang menandakan aku bukan untuk mempermalukannya. Tapi aku ingin mengangkat kisahnya untuk membantu sakit hati Ramah yang selama ini dipendam seperti bara yang sangat merah dan panas. Ramah kupeluk, kusayang, akhirnya Ramah mengalah memberikan rekamannya. Ramah yang marah akhirnya bisaku redahkan kemarahannya. Sampai setengah jam Ramah tidak mau cakap, Ramah diam dengan posisi tengkurap di atas tempat tidur yang empuk tanpa menghiraukan aku. Aku termenung sejenak memikirkan cara apa lagi kubuat untuk mengajak Ramah ceritakan kisahnya.

 Dengan ide yang cemermalang terlintas di benakku untuk merayu dengan posisi yang sama. Akhirnya pertahaan Ramah kandas juga, Ramah membalikkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap aku. Dia senyum sambil memelukku sambil bertanya. Apasih gunanya abang muat di koran kisah Ramah ? abang jahat kali ya ? apa memang wartawan seperti itu ? sukanya memberitakan kesusahan orang lain. Aku jawab dengan nada yang ramah serta menebar senyuman yang memikat hati Ramah agar ianya dapat yakin dan percaya. Ramah yang manja dan seksi akhirnya luluh tersenyum dengan iklas meceritakan kisah hidupnya sampai terjun ke dunia hitam untuk memuaskan nafsu lelaki hidung belang.

Ramah bercerita pajang lebar tentang kisah hidupnya pada penulis pada pukul 4.30 Wib sampai pukul 7.30 pagi. Berawal dari ceritanya gadis cantik ini sangat lugu takut dengan laki- laki, bahkan banyak sekali kawan-kawan Ramah yang mengejeknya kampungan. Tapi itu semua tidak pernah dia masukkan dalam hati hanya dianggapnya sebatas kuping saja. Waktu itu Ramah masih duduk di bangku SMA Swasta kelas dua di Medan. Dengan keluguan Ramah banyak sekali para lelaki satu lokalnya menaruh hati sama aku. lain orang lain tingkah lakunya beratus teori yang di buat cowok-cowok keren yang mendekatinya, yang namanya cinta belum juga ada di benaknya.

Suatu waktu yang tidak di sangka Ramah ketemu dengan seorang pemuda yang baik hati ianya Roni (nama samarannya) berhasil memikat hati Ramah. Penuh dengan rayuan dan kemesrahan yang berjalan cukup lumayan sampai kejenjang penikahan. Awal dari kesukaan Ramah pada Roni penuh dengan kejujuran dan kebaikannya di mata Ramah membuatnya tergila-gila dengan Roni. Saat yang di nanti-nantikan Roni mulai berani bercanda mengajak Ramah jalan-jalan ke salahsatu tepat perbelanjaan. Ajak ini tidak disangkah Roni kalau ramah langsung menyetujuinya. Perjalananpun dilanjutkan kesebuah plaza dengan mesra Roni memberanikan dirimemegang jari tangan Ramah yang lembut dan halus.

Sentuhan itu membuat hati Ramah berdebar-debar seperti baru terkena strum listrik. Padahal menurutnya banyak cowok yang jahil menyentuh tangannya, satupun belum pernah ia rasakan detak jantung seperti ini. Ramah membalas sentuhan tangan Roni sampai pada gemgaman yang gemas sama-sama dilakukan. Roni menarik tangan Ramah sambil mengecup kulit tangan Ramah yang halus penuh dengan arti dan kasih sayang yang tidak bisa dituturkan. Sesampai plaza Ramah mengajak Roni keliling-keling di dalam plaza. Aku mulai sudah lelah Roni juga kelelahan. Aku kasihan melihat Roni aku ajak dia pulang kerumahku, sesampainya kami dirumah ternyata kedua orang tuaku bekum juga pulang kerja, yang ada adik aku barung pulang sekolah.

Kami melanjutkan ngobrolnya di ruang tamu sambil nonton TV Flim Sinetron yang di bintangi Rano Karno sema menjalin cinta remaja di bangku sekolah. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 Wibb Roni dengan sopan berpamitan sama aku. Dengan kesopanan Roni juga membuat aku terus bertambah sayang dan cinta sama dia. Tanpa kami sadari Tiga bulan sudah berjalan hubungan aku dengan Roni. Hubungan baik itu melalui telepon atau ketemu disekolah terus berlanjut. Roni sudah mengenalkan aku pada orang tuanya, dan aku sudah mengenalkan Roni pada kedua orang tuaku. Semula kedua orang tuaku tidak pernah mempersoalkan hubunganku dengan Roni sampai kami naik kelas tiga. Sewaktu hari libur kawan-kawan aku mengajak rekreasi dipantai kasan. Roni menyetujuinya, aku senang karena Roni mau ikut bersama-sama.

Kami berangkat tiga pasangan yang semuanya pacaran, ongkos kami kumpul- kumpul bersama. Tiba waktunya aku pun menunggu angkot berjanji jumpa di sipang Amplas. Pukul 9.30 wibb sudah kumpul semuanya, langsung menaiki mobil bersama-sama kepemandian. Sesampainya di sana masing-masing pasangan berpencar menyewa gubuk yang ada dipinggir pantai. Roni masih malu-malu untuk menyewa gubuk buat kami berdua yang di luar. Dia menatapku dengan penuh kasih sayang aku mengkedipkan mata agar Roni berani menyewakan gubuk buat kami. Akhirnya Roni mengajak aku menyewa gubuk pas dipinggir pantai. Cuaca mulai mendung kami ganti baju untuk sama- sama berenang.

Satu jam penuh berenang perut mulai mulas dan terasa nyeri menahankan lapar. Setenga jam kemudian kami dengan bersama-sama berhenti mandi untuk makan di tepi pantai Kasan. Mandi sudah, makanpun sudah tinggal istrihat dulu baru nunggu sore baru mandi lagi siap mandi baru pulang. Kebetulan siap makan hujan grimis pun tiba, kami sangat khawatir kalau pantai ini akan meluap nantinya. Tapi kekawatiran ini hilang begitu saja sesaat aku berdua dengan Roni di dalam gubuk.Hujan makin lebat, Roni menutup pintu gubuk, suasana makin dingin Roni menatapku dengan lembut. Saat aku menggeser posisi dudukku Roni menarik tanganku, sambil merangkul bahuku. Aku terkejut dengan napas yang agak kencang, jantungku berdebar-debar ada rasa benci dan suka.

Roni tidak menghintakan jemarinya di bahuku, tangannya mulai menjulur ke pinggangku meletakkan tangannya di atas pahaku yang di balut dengan celana renangku yang basah kuyup. Roni mencium leherku dan kupingku, aku meronta dengan kecil sambil mengatakan jangan bang, nanti kalau kita sudah kawinkan abang bisa melakukannya. Roni tidak mendengar keluhanku bahkan ia merayuku dengan kata-kata dan gombalan sambil mengatakan “aku mau bertanggung jawab untuk mengawinimu, aku sumpah demi tuhan” kebetulan Roni beragama Islam aku keristen. Kutanya roni lagi apa orang tua abang mau menerimaku ” dia jawab aku sudah bilang sama orang tuaku mereka setujuh, terserah pilihan aku ” akhirnya pertahananku kandaslah sudah.

Aku pasra Roni menciumi aku mulai dari ujung rambut sampai kakiku, dengan penuh rasa sayang dan menikmati keindahan tubuhku. Aku tidak tahan perlakuan Roni, membuat aku macam cacing kepanasan sambil membalas cubuan Roni. Melihat perlawanku Roni semakin semangat sambil berusaha membuka baju dan celana renangku, dengan sekejap baju dan celanaku sudah lepas dari tubuhku. Tubuhku yang putih mulus hanya di balut segi tiga dan BH. Melihat kemontokan tubuhku Roni sempat terpelongo sejenak melihat pemandangan yang tidak pernah dilihatnya secara langsung selain dengan menonton fliim biru. Dengan secepat kilat Roni melepaskan seluruh pakaiannya yang melekat di tubuhnya.

Aku terkejut dan malu melihat Roni telanjang bulat di hadapanku, dadanya yang kekar ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku teringat kata-kata kawan aku, kalau ada bulu tubuh di dada pria nafsunya tinggi, mengingat ini akau gemetar. Tanpa di komandoi tangan Roni yang lincah membuat aku kehilangan konstrasi. Aku gelagapan menyeimbangi jamahan dan ciuman yang di lakukan Roni samaku. Aku hampir lemas dengan cumbuan Roni yang membuatku tidak sadar diri sumua pembalut tubuhku telepas sudah seperti anak yang baru dilahirkan tanpa sehelai benangpun yang menghalanginya. Roni mulai meningkatkan serangannya maaf pembaca “dengan menjilat milikku yang paling berharga”. Aku tidak tahu apa lagi yang dilakukan Roni yang jelas membuat aku menggelinjang- gelinjang.

Roni menindihku sambil membuat ancang-ancang diatas tubuhku sambil mengarahkan basokanya sambil menciumi leherku dan telingaku. Saat tubuh Roni peling bawah menekan milikku terasa nyeri dan sakit. Mendengar jeritanku Roni merasa kasihan dan menghentikan aksinya sebentar. Sambil mempermainkan buah kembar milikku, selang beberapa minit Roni mengulangi aksinya sambil menekan dengan pelan-pelan, tapi sangat luar biasa sakitnya. Aku baru kali itu di cium laki- laki, apalagi untuk di gitui. Roni mulai tidak sabar menikmati milikku, akhirnya dia menekannya dengan keras, aku menjerit kesakitan. Roni berhasil membongkar pintu milikku yang kian lama kujaga, Roni tidak bergerak dia membiarkan miliknya didalam miliku.

Sekali-sekali Roni mengangkat tubuhnya dengan lembut, aku mulai merasakan nikmat bercampur sakit kurang lebih lima belas menit Roni mengerang dan terkulai lemas di sampingku. Aku memaki diriku sambil menangis, kenapa aku segampang itu mengikuti godaan setan yang menimpahku. Aku mau duduk terasa sakit di selangkanganku, Roni kulihat dengan senyum sambil memeluk aku. dia meyakinkan aku bahwa dirinya tidak akan menyia-nyiakanku sampai kapanpun dia tetap bertanggungjawab katanya padaku. Dengan kata-kata bang Roni membuat aku tidak ada apa-apanya dimuka dia aku tertunduk dan patuh pada perintahnya

cerita sex

http://bit.ly/29Gn40b  panduan sabung ayam              http://bit.ly/2ad5CG8 panduan bermain poker

Friday, July 22, 2016

Badai Membawa Kenikmatan


CERITA SEX :Badai Membawa Kenikmatan

ASIANPOKER88 : Namanya Apriliani, atau lebih akrabnya Pri. Dia satu kos-kosan denganku. Kepribadiannya mirip cowok demikianpun postur tubuhnya. Badannya tegap dan cara berjalannya gagah. Wajahnya tidak cantik, tapi lebih terkesan tampan. Hidungnya mancung dengan mata setajam elang dan bibir yang sedikit tebal. Rambutnya keriting sebatas bahu yang sering dikuncirnya ketika kegerahan. Sebenarnya Pri ingin memangkas rambutnya seperti potongan cowok, tapi selalu dilarang oleh kami. "Kamu lebih pantes begini Pri, kayak Nicolas Saputra.

" kata Heny, salah teman kosku juga waktu Pri
mengutarakan ingin memangkas rambutnya. Ya.. sekilas memang mirip Nicolas Saputra, terlebih lagi kulitnya putih bersih. Pri itu orangnya pendiam dan sesekali mudah marah, dan paling sering disuruh ngerjain pekerjaan-pekerjaan cowok di kos-kosan itu. Pokoknya kecuali dadanya yang membusung, kelamin dan suaranya mungkin Pri sudah dalam kategori laki-laki. Yang paling aneh, teman-teman kosku justru yang nggak lesbian (berarti kecuali Ayu yang waktu itu ngesex bareng aku) naksir pada Pri.

 Walaupun mereka sadar benar lahir batin kalau Pri itu asli cewek. Kemana saja Pri dikuntit dan ada saja yang cari perhatian Pri. Akupun sebenarnya suka sih.. tapi sekedar melirik-lirik wajah gantengnya itu (sebab aku kan bukan lesbian sejati, waktu sama Ayu itu kan kebetulan he.. he..). Pokonya aku masih doyan cowok. Hari itu aku hanya tinggal berdua dengan Pri di kos-kosan. Sejak kemarin, teman-teman kosku pada mudik (termasuk Ayu) karena mulai kemaren liburan semester sudah dimulai. Rencananya Pri akan pulang besok, sedang aku seminggu lagi sebab ada urusan di BEM (aku termasuk aktivis BEM). Sebelumnya kami bersikap wajar-wajar saja. Pri tidur di kamarnya, aku di kamarku sendiri.

Tak ada keinginan untuk tidur sekamar, karena aku kurang suka dengan sikap Pri yang mudah marah. Mendung yang menggantung sejak siang tadi tiba-tiba berubah menjadi hujan yang lebat disertai angin. Waktu itu kira-kira pukul sembilan malam, waktu aku sudah akan tidur. Sialnya atap kamarku bocor cukup besar sehingga membasahi kasurku. "Aduh sial! Gimana nih? Prii.. tolong kesini dong.." teriakku. "Ada apa sih?" tanya Pri menuju kamarku. "Bocor nih, gimana dong?" "Kamarku sendiri juga bocor. Dasar rumah tua! Rumah beginian disewain!" umpat Pri. "Sudah deh, jangan marah-marah. Biasanya juga nggak gini, mungkin karena hujan angin kali. Kalau begitu bantuin aku memindahkan barang-barang ini, nanti kamu aku bantuin juga." ujarku. Akhirnya Pri membantuku memindahkan barang-barang ke tempat yang kering.

Lalu akupun turut membantunya. Setelah selesai kamipun segera berkumpul di ruang tengah dengan maksud tidur disitu, sebab kamar lainnya terkunci dari luar. Kebetulan ada TV disitu, daripada jenuh karena nggak jadi ngantuk aku menstel TV itu. Pri menghampiriku. "Din, hujan-hujan begini enaknya ngapain?" tanya Pri. "Enaknya tidur, tapi aku nggak jadi ngantuk nih." jawabku. "Enaknya makan mie goreng yang masih panas sambil nonton film. Kayaknya Inka punya film bagus deh." ujar Pri. "Trus?" "Yaa.. kamu kan terkenal pandai bikin mie goreng, aku belum pernah loh ngerasain mie gorengmu." kata Pri sedikit merayu.

"Iya deh, aku buatin." Lalu aku pergi ke dapur untuk membuat mie goreng. Aku kembali teringat pergumulanku dengan Ayu yang awalnya karena mie goreng. Teringat itu aku tersenyum sendiri. Setelah selesai aku bawa dua porsi mie goreng ke ruang tengah. Tapi aku sempat terkejut melihat Pri yang meremas-remas dadanya dengan nafas terengah-engah sambil memandangi layar kaca. Ternyata film yang ditontonnya itu BF. Dadaku bergetar saat memandangi wajah Pri yang telah berubah kulit menjadi merah merona. Apalagi gerakan tangannya yang meremas-remas payudaranya yang tak sebegitu besar hingga kaos yang dikenakannya tertarik-tarik keatas.

 "Auhh.. ehh.. ehh.." desau Pri sembari memejamkan mata rapat-rapat. Spontan birahiku bangkit memandang gerakan Pri yang bagai haus cinta. Segera aku letakkan dua piring mie di atas meja lalu aku menghampiri Pri dan memeluknya dari belakang. "Eh.. Din, apa-apaan kamu ini?" tanya Pri kaget. "Aku hanya ingin membantumu saja, Pri." jawabku sambil meremas-remas buah dadanya. "Aahh.. Diin.. sudah aduuh.. ennaak.. gilaa.." Tangan Pri mencoba mengusir jemariku. Tapi jemariku sudah mencengkeram kedua buah dadanya dan meremasnya dengan penuh perasaan. Tinggalah Pri merasakan kenikmatan itu dengan desisan-desisan halus.

 Aku pelintir kedua puting susunya kemudian aku koyak-koyak ke kanan dan ke kiri. Pri menjambak rambutku dengan desahan yang panjang. "Aaahh.. achh.. Diinn eennaakk.. sshh.." "Lepasin kaosnya Prii.." pintaku kemudian. Pri melepas kaosnya, juga celana pendeknya (kebetulan nih). Akupun segera melepas semua pakaianku kecuali CD. Kemudian aku peluk Pri yang masih di bawah kendaliku itu. Aku remas kembali buah dadanya yang masih terbungkus bra. Aku matikan layar TV karena kupikir Pri sudah dalam kendaliku sepenuhnya. Lalu tanganku bergerak ke punggung Pri dan berusaha membuka pengait bra itu.

 Sesudah berhasil melepas pengait branya tanganku kian bebas membelai dan meremas buah dadanya yang mengeras. Sementara tanganku bergerilya di kedua bukit bengkaknya, bibirku pun menciumi leher Pri. Pri mendesah tak tahan mendapat perlakuanku itu. "Haahh.. kenyotin payudaraku kayak di film tadi Diinn.. please.." Aku lepas branya lalu aku tarik tubuh Pri agar menindihku. Dalam posisi menungging Pri menjejalkan susunya ke dalam mulutku. Aku jilati saja ujung putingnya membuat Pri bergelinjangan geli. Lidahku menari-nari mempermainkan puting susu Pri yang bergelantungan tepat di depan wajahku.

 "Ddiinn.. dikenyot dong.. jangan siksa akuu hoohh.." desahnya ketika puting kanannya aku himpit dengan kedua bibirku. "Uuhh.. Diinn gelii.. ouuhh.." Pri menyodokkan payudaranya ke dalam mulutku lalu aku kenyot-kenyot payudaranya dengan hisapan-hisapan yang kuat. Pri melenguh-lenguh keenakan, demikianpun aku yang merasakan remasan jemari Pri di payudaraku. Aku balik tubuhnya hingga kini posisiku berada di atasnya. Aku kenyot terus payudara Pri yang sudah membengkak dengan hiasan putingnya yang keras coklat kemerah-merahan dan sangat menggemaskan.

 "Aduuhh.. Diinn.. kayaknya aku kebelet kencing nih.." rintihnya. "Keluarin aja Prii.. kamu horny banget sayy.." jawabku disela-sela penthilnya. "Auhg.. aku nggak tahan.. eeghh.. hohh.. Din aku keluar betulan.. hoohh.. uuhh.. aach..!!" Viagra Pri menyembur dari lubang kenikmatannya dalam jumlah banyak. Aku segera melepaskan CDnya lalu menjilati viagra Pri yang membludak di kemaluannya. Pri menjerit-jerit tertahan ketika vaginanya aku hisap kuat-kuat. Rambut kemaluan Pri yang sama keritingnya dengan rambut kepalanya terbungkus aroma khas yang menambah nikmat hisapanku. "Hhmm.. rasanya legit banget aacchh.

." "Ogghh.. terus sayang.. nikmat sayang.. oogghh.. oogghh.. yeeaahh.. nikmat sayang.. terus sayangg.." Erangan demi erangan kami mengalahkan hujan badai malam itu. Tak lagi peduli dengan atap yang bocor ataupun kilat yang menggelegar-gelegar. Yang ada hanya kenikmatan demi kenikmatan yang kami reguk bersama. Tak ada kata istirahat dalam kamusku, segera aku minta Pri mengulum kedua buah dadaku yang telah lama meminta-minta. Hisapan-hisapan Pri yang masih lugu membuatku semakin menggelepar nikmat.

 Lalu Pri mengoral vaginaku yang berlendir dan lengket. Disingkapnya CDku lalu diregangkannya selangkanganku kemudian dilumatnya vaginaku yang sudah becek. Dihisapnya klitku yang berdenyut-denyut hingga membuatku terengah-engah kehilangan nafas. "Prrii.. sshh.. Aaahh..ttrruuss.. sshh.." erangku. Pri memasukkan jari telunjuknya ke dalam liang senggamaku dan slep! Telunjuk itu masuk dan erus digoyang-goyang olehnya. "Kocok sayy.. tusuk aahh tarik hoohh.." Aku nikmati sedalam-dalamnya kenikmatan ini, dan nampaknya Pri yang tampan juga menikmatinya.

Lalu tubuhku menegang, lava kenikmatanku mengedor-gedor dan suurr.. surr.. aku merasakan keindahan dan kelegaan yang luar biasa. Kami menghempaskan tubuh di lantai dingin itu. Keringat kami membanjir beraroma erotis. Aku pandangi Pri yang menerawang jauh. Aku dapati juga tubuh cewek berwajah tampan itu! Seperti bercinta dengan Nicolas Saputra saja. "Makasih ya Pri. Aku lega banget, sensasinya luar biasa." kataku. Pri hanya diam memandang entah kemana. Aku tahu mungkin dia bingung dan resah dengan apa yang kami lakukan barusan.

 Tapi aku tak mau dia berlarut-larut sedih. Tanpa sepengetahuannya aku ambilkan wortel dan oil pelumas dari kamarku. Lalu aku mulai membangkitkan birahinya kembali. Aku tindih Pri lalu aku cumbui bibirnya yang sedikit tebal. Aku lumat bibirnya dan sekali-kali aku gigit bibir bawahnya membuat Pri sekali-kali mengaduh. Lidah kami bertarung dan Pri pun kembali menyerangku dengan panas. Kuat pagutan Pri di bibir dan leherku berganti-ganti. Lalu bibirku menurun menyapu setiap inchi lehernya lalu menghisapnya kuat-kuat hingga meninggalkan bekas merah. Lalu kembali aku kenyot puting susunya bergantian sambil aku gigit pinggiran payudaranya membuat Pri merintih-rintih.

Lidahku kemudian menjilati pusarnya lalu turun ke bagian tersensitifnya. "Auuhh.. aahh.." desahnya ketika lidahku menyusuri lipatan dalam vaginanya yang sempit. Aku sibak vaginanya dengan jari tanganku lalu aku pencet-pencet klitorisnya yang menyembul sebesar kacang. Lalu aku hisap daging mungil itu sekuat tenaga. "Aaahh.. sstthh.. oohh..!" rintihan kenikmatannya terdengar nyaris seperti jeritan. Aku renggangkan selakangannya lalu aku taruh bantal dibawah pinggulnya. Setelah itu aku siapkan wortelku yang telah licin oleh oil pelumas.

"Aaach.." rintihnya ketika ujung kepala wortel menyentuh bibir kemaluannya. Aku bimbing wortel itu memasuki lorong kawinnya dan kudorong sedikit, Pri menjerit. Kutekan lagi, dia memekik. Dan kutekan terus walau sukar. Tak kupedulikan rintihannya. Otot selakangannya meregang. Dengan penuh keyakinan kutambah tenaga doronganku. Bless! Krak! Selaput daranya jebol. Pri menjerit keras, "Acchh.. sshh..!!" Darah merembes di sela-sela batang wortel. Aku diamkan sejenak membuat Pri merintih. Lalu kukayuh gagang wortel yang tinggal tiga centi itu penuh irama. Naik dan turun. Tarik dan dorong. Rintihan dan jeritannya seakan tak kupedulikan. Rintihan-rintihan kesakian itu lama-lama berganti erangan kenikmatan yang luar biasa.

 Dengan menahan rasa sakit dia menggerakkan pinggulnya. Memutar dan memutar. Mengikuti irama yang aku ciptakan. Sesekali menyentak tubuhnya sambil terus memeras-meras susunya sendiri. "Aaduuh Diinn aku nggak tahan lagi ingin keluar.. aduuh saayy.. eennaakk teerruuss.. yang cepat sshh.. aahh.. ". Sssuurr.. ssuurr.. kami orgasme lagi untuk kedua kalinya. Rasa lelah dan nikmat berbaur menjadi satu. Hujan telah reda. Kami saling membasuh tubuh di kamar mandi sambil mencubit-cubit nakal, walau tak sampai mengulangi petualangan barusan. Lalu kami kembali ke ruang tengah dan memakan mie goreng yang telah dingin penuh dengan kemesraan. E N D


http://bit.ly/2ad5CG8 panduan poker                                    http://bit.ly/29Gn40b panduan sabung ayam

Thursday, July 21, 2016

Bercinta Dengan Sepupu Istriku Yang Juga Masih Istri Orang


CERITA SEX : Bercinta Dengan Sepupu Istriku Yang Juga Masih Istri Orang 


ASIANPOKER88 : Cerita Sex Terbaru | Panggil gw Gugun, Usia 25 tahun.. tinggi 170cm berat badan 65kg, married, anak putra dan putri.
Sebelumnya perlu kalian ketahui, kisah yang gw tulis ini adalah kisah yang benar benar terjadi anatara sepupu istri gw, panggil aja Rena, 24 tahun, tinggi 165cm berat badan 50kg, married dan belum punya anak.

gw sekeluarga itu deket banget sama Rena, bahkan anak-anak gw pun deket banget sama dia dan suaminya, sampai kita janjian buat beli rumah sebelahan dibilangan kota D, ja-bar.
sehari-hari gw bekerja sebagai staff disalah satu perusahaan yang besar, dan istri gw standby dirumah sambil urus anak-anak.. sementara Rena dan suaminya adalah staff disalah satu perusahaan di bilangan sudirman, mereka bekerja 1 kantor.

sampai suatu hari suami Rena memutuskan untuk pindah kerja dan bekerja di luar kota dan darisinilah kisah ini berawal.
sehari, seminggu, sebulan setelah suami Rena tugas diluar kota, kami masih biasa dan wajar saja, terkadang Rena sepulangnya dari kantor langsung datang kerumah untuk menengok anak-nk gw, kadang juga kita makan malam bersama.

suatu hari kebetulan istri dan anak-anak gw sedang diajak menginap dirumah mertua gw, dan gw juga akan menginap disana tetapi gw harus pulang dulu kerumah untuk ambil pakaian kerja gw.
sesampainya dirumah, gw langsung masuk dan mandi, karena dirumah ngga ada orang lain jadinya gw santai, habis mandi gw cuma pakai handuk sambil ngopi dan ngerokok diruang Tv, tiba-tiba pintu rumah gw ada yang ketuk,..
“tok..tok..tok”..

langsung gw buka pintu dan ternyata Rena yang datang,,
Gw : eh.. Lu Ren, ada apaan ?, masuk yook..
Rena : ngga, anak-nak Lu mana, gw mau ajak nginep dirumah..
Gw : yahh, lagi ditempat dirumah bini gw.. (sambil berjalan keruang Tv)
Rena : hmm.. kok Lu ngga kesana ?

Gw : nanti ahh, tadi gw dari kantor langsung balik, masih macet klo jalan kesana, bentar ya, gw mau pake baju dulu, ngga enak ada Lu, ntar Lu pengen.. laki Lu kan jauh.. hahahha.. (ledek gw)..
Rena : jiah.. ngga keleeus (dengan mimik muka yang nafsuin)..
Gw : yaudah gw kekamar dulu, (dan disaat gw berdiri, lilitan handuk gw lepas)
langsung reflek gw tutupin jagoan gw, “iihhhh….” Kata Rena sambil menutup matanya..
Gw : sorry.sorry.. (ambil handuk dan gw lilitin lagi)

Rena : ya gpp, yaudah sono Lu pake baju, bikin gw kangen sama laki gw aja Lu.
Gw : ya kaliii,, gedean punya gw kali… hahah (kami memang biasa bercanda fulgar)
Rena : sialan Lu.. tapi emang iya sii.. hahahhah (tertawa lepas)
Gw : haahah, bego Lu.. ywdah ahh, gw mau pake baju.. mau ikut Lu ?? ahhah
Rena : ogahh..

didalam kamar gw jadi kebayang tubuh Rena, dan akhirnya jagoan gw bangun dari tidurnya..
“ahh sialan, sayang aja sepupu bini gw, klo ngga udah gw pake tuh” gumam gw..
20 menitan gw disuasana kaya gitu, berpikir gimana caranya gw bisa nyobain lobangnya Rena.
“ahh… mana mungkin, ntar dia ngadu sama bini gw. Udahlah”…. Sambil gw pilih2 baju yang gw mau pakai dan siapin buat kekantor besok..

“Gun,, lama amat Lu pakai baju, bedakan dulu ya ?” terdengar teriakan diluar kamar gw..
“Sialan Lu,, iya gw lagi dandanin jagoan gw biar tambah macho” sahut gw..
“yailah, mau diapain lagi sii, itu aja udah Macho,, cepetan donk gw iseng sendirian” Rena berteriak.
“hahahaha.. iya iya… klo lu iseng ya kesini aja masuk” pancing gw..
“Krek”.. suara pintu kamar gw dibuka, ternyata Rena yang masuk..

“yaudah gw disini aja deh, takut gw” sambil berjalan melewati pintu..
“oiit,, ntar dulu Ren, gw masih belum pake baju ini” kata gw sambil beralih ke balik pintu lemari.
“halah, udah cuek aja.. toh gw tadi juga udah liat kok” dengan nada datarnya dan duduk di tepi ranjang. mendengan ucapannya Rena, jagoan gw tiba-tiba bangun dengan tegangnya..
“ahh Pe’a Lu yaa.. yaudah siniin tuh handuk gw” yang kebetulan memang ada disamping Rena.
“yailah,, ambil aja sendiri apa, manja banget Lu” sahutnya..

dan gw putuskan untuk cuek berjalan mengambil handuk gw disampingnya,
“bodo dah, dia liat jagoan gw bangun, kali aja dia jadi nafsu abis liat” dalam hati gw berkata.
Rena : “Ehh gilaa, itu masih konak aja punya Lu Gun” sambil melotot kearah jagoan gw.
Gw : “hehehe,, iya donk, macho kan jagoan gw” sambil mengarahkan jagoan kearah Rena
Rena : “iya Lu, macho bener,, gw pegang ya ?” sambil mengarahkan tangan kanannya ke batang jagoan gw.

Gw : “lu pegang, buat mainan juga gpp Ren” sahut gw..
dipegang kemudian diremas pelan batang jagoan gw, dikocok perlahan..
Gw : hmmphh.. duh Ren, jadi pengen nih gw
Ren : tenang aja..”masih terus mengocok batang jagoan”
Gw : Ren… gw kunci pintu dulu ya. (sambil mengecup bibir imutnya)
Ren : iya.. jangan lama ya.

setelah pintu depan gw kunci, gw balik lagi kekamar, ternyata Rena sudah bugil sedang asyik memainkan kli*orisnya di memek botaknya.. “Ehmm..ahh…ehhmm..ahh” hanya itu yang keluar dari mulutnya.. tanpa pikir panjang, gw langsung deketin memeknya terus gw jilatin klitorisnya..
“ahh.. enak banget Gun,, Lu ngga jijik jilatin memek gw ?, laki gw aja ngga mau Gun” Tanya Rena.
“ ngapain jijik, enak gini..slurrp..slurpp..hmm..emhh..” Gw makin buas main di memeknya..
10 menit lidah gw beraksi..

 tiba-tiba tangannya Rena menekan kepala gw kearah memeknya daaannnn..
“terus Gun,, jilat Gun.. puasin gw…dikit lagi gw keluuaaaarrr…aaaaaaaahhhhh” desah panjang Rena dibarengi cairan hangat keluar dari lubang memeknya..
“ahh.. gilaa.. enak banget Gun permainan Lu, keluar gw Cuma pake lidah Lu doank” dengan nafas yang tersengal2.

“hehehe… enak yaa..” sambil merebahkan badan gw disampingya dan memilin2 puting susunya yang masih merah..
Setelah gw rasa dia udah cukup menikmati rasa lelahnya karena orgasme pertamanya,, gw langsung cium bibir imutnya,, dan diapun membalas dengan lembut..
“Lu hebat Gun, jangan sampe ketahuan orang ya, biar gw masih bisa ngerasain dipuasin sama Lu” racau Rena.

“iya, cukup kita aja yang tau ya” sahut gw..
dia naik keatas badan gw, dikecup..dijilat setiap senti dari tubuh gw..
dari leher turun ke dada gw, “emmhh” hanya itu yang keluar dari mulut gw saat lidahnya bermain di putting gw..
terus turun kearah perut gw,, dan sampailah di jagoan gw…

disaat mulut imutnya mengulum jagoan gw.. tiba2 hp gw bunyi,, ternyata bini gw yang telpon..
gw kasih kode Rena buat berhenti mengulum tapi dia malah makin asyik memainkan penis gw..
Gw : hallo Mi, ( mami adalah panggilan bini gw)
Bini : kamu dimana ? kok belum kesini ?
Gw : Auu..! (Rena menyedot buah za*ar gw) iya ketiduran abis capek banget..
Bini : kamu kenapa teriak Auu ?”selidik bini gw dengan nada curiga”

Gw : ini aku ngulet trus kaya uratna ketarik gitu.. (iya urat penis gw ketarik, gumam dalam hati)
Bini : yaudah klo kamu capek, ngga usah kesini. Besok aja pulang kerja sekalian jemput…
Gw : hmm.. gpp nih ? yaudah klo gpp, aku kesana besok sekalian jemput yaa…
Bini : yaudah gpp.. kamu nanti beli makan aja ya, sekalian Rena tuh ajak..
Gw : okee nanti aku ajak Rena sekalian.. aku mau mandi dulu deh.. yaudah yaa..
Bini : oke, bye sayang.. Love you..

Gw : bye honey.. love you too…
kenapa si Dera ? “Tanya Rena”
gpp.. yaudah yuk lanjutin.. gw ngga jadi kesana, besok aja sekalian jemput.. “timpal gw”
wahh bener Lu ? gw nginep sini yaa.. yess! “sahut Rena girang”
iya bawel.. udah yuk lanjut..” sambil mengarahkan penis gw ke mulutnya”
“Gun, katanya sperma banyak vitaminnya ya ?” Tanya Rena dengan penasaran.
“yaa katanya sih gitu, knp ?? mau minum sperma gw ?” selidik gw dengan penuh harapan
“enak ngga sih ??” Semakin penasaran..

“yaudah nanti cobain aja biar tau rasanya” sahut gw sambil mengarahkan pe*nis gw kemulutnya.
“emhhpp..mmcctt…emmhhpp.. enak ngga Gun?”
“Iya enak Ren, terusin Ren..ehhh..” gw maju mundur kepala Rena
“slruuup..ehmh..ehhmm..emmhh..” Cuma itu suara Rena..
15 menit gw dioral sama Rena,, pertahanan gw udah tinggal 2 lapis lagi..
“Ren,, gw udh mau keluar nih’’

“keluarin dimulut gw Gun” semakin bersemangat mengoral penis Gw..
dann..
‘aahhh…Renaaaaa…. Gw kee..luu..aarr….” 5x penis gw tembak sperma dimulut Rena..
dengkul serasa tak bertenaga… Rena masih asyik membersihkan sisa Sperma di Penis gw..sampai bersiiihh..
“enak Gun ternyata Sperma, banyak banget Lu..??” sambil membersihkan sperma dibibirnya..
“enak yaa ?? yawdh nanti gw donor sperma deh ke Lu” ledek gw…
dan kami berdua menjatuhkan badan di kasur dengan kondisi bugil dan berpelukan..
“lanjut ngga Ren ??” Tanya gw..

“nanti dulu yaa sayang,, waktu masih panjang kok” mejawab pertanyaan sambil mecubit hidung gw.
Sambil asyik bercanda, gw lihat jam digital dimeja kamar gw udah nunjukin jam 23:35..
Gw : “Ren, lanjut yuukk.. udah mau ganti hari nih..” ajak gw sambil memilin puttingnya
Ren : “Emang pengen banget yaa,, apa pengen ajah” ejek Rena dengan mimik menggoda
Tanpa menjawab omongan Rena, gw langsung melahap bukit kembarnya, Gw jilat, sedot, gigit kecil..
“hemmpphh…..aduh Gun, enak banget,….teruuus Gun… enyoot terus tetek Gw….” Desah Rena
tangan kiri Gw pun bergerak menuju klitorisnya,, gw gesek2 lembut..dan gw masukin lobangnya dengan jari tengah dan jari manis gw..

“Rena hanya merem melek menikmati aksi gw”… uhh.. hmmpp…auuuhhh… Guguuuunnn….. teruus Gunn… hanya itu yang keluar dari mulut Rena..
basah,, hangat,, itu yang gw rasakan dimemeknya Rena…
“Basah banget Lu Ren… masukin yaa….” Ucap gw seraya mengambil posisi untuk siap tempur..
“iya Gun,, ayuu masukin,, gw juga udah naik lagi nih… cepetan Gun entotin Gw..” sahut Rena
gw semakin nafsu mendengan ucapan kotor Rena, karena dalam kesehariannya dia ngga pernah ngucapin kata2 kotor…

“Doggy yuk Ren..” sambil membalikan tubuh Rena..
“cepeet donk Gunn… lu lama banget siih,, tinggal tusuk doank penis Lu ke memek Gw”.. sambil menggoyangkan pantatnya yang mulus dan bohay…
Gw tusuk lobang kenikmatan Rena….
“ahhhh… terus Gun,, jangan digantung gitu…. Yang dalemm Guunnn..”
Gw mulai beraksi dengan ritme 10:1 (10 x digantung : 1x disodok sampe abis)..
“ahhh.. jahat Lu Gunn,, ayo doonkk Gun.. goyang Gun… ahhhh… Gugunn…” racau Rena..
‘plok..plok..plok…’ suara tubuh kami beradu..

“Guguuunnnn… gw mau keluarr….sodookk Gunnn….ahhhhhhh…..gw keluuaarrr…..ahhhhh…” Rena mendapatkan orgasmenya.. penis gw serasa di pijat oleh memeknya yang basah dengan cairan cintanya..
“ugghh…enak banget Gun…”
gw cabut batang penis gw dan dia langsung tengkurap bagaikan tak bertulang…
gw mainkan jari gw dibelahan pantatnya,, cairan Rena sampai kelubang du*urnya, ge tekan-tekan lembut lubang du*urnya,…

“emhh…Guguuunnn, jangan itu yaa… sakit nanti..” tolak Rena karena gw coba terobos lubang duburnya dengan jari tengah gw..
gw balikan tubuh Rena dan gw arahkan penis gw ke mulutnya….
“haemmphh..” langsung dilahap oleh mulut imutnya Rena…
slruupp..slurupp..emhh…ehmhh..
gw cabut penis gw,,

gw turun ketepian ranjang dang w tarik Rena sampai ke tepian ranjang..
gw angkat kedua kakinya dan terlihat belahan memek yang basah…
langsung gw arahkan pe*is gw kelubangnya.. sleebbbb…… dengan mudahnya.
“ahhh…” lenguh Rena..
gw goyang dengan ritme yang beraturan….
setelah 15 menit.. Rena menjambak rambut gw dan diarahkan kepala gw ke te*eknya..

‘iseep Gun…enyoot tetek gw ehhmm,.. ayo Gun..dikit lagi gw keluar nih..” dengan nafsunya..
“ahh..trus Gugun,. Yang kuat ent*otin gw..ayo guguuuunnnnn…ahhhhhh…. Gw keluar Gunnnn….” Kembali Rena mendapatkan orgasmenya…
Gw goyang terus ngga kasih kesempatan Rena buat bernafas..
“Gw mau keluar nih Ren,, keluarin dimana ??”
“terserah Lu Gugun, ahh.. didalem juga ngga apa2..hhmm”
dengan RPM tinggi gw tancap memek Rena …
dan pertahanan Gw mau jebol..

“ahhhh Renaaa…. Gw keluaarrr……ahhhhh” peju gw tertanam dirahim sepupu istri gw..
“uh..uh..uh..uh.. enak banget Ren” sambil merebahkan badan disamping Rena..
“iya Gun, enak banget. Gw bisa keluar berkali-kli…”
akhirnya kami berciuman mesra dan kamipun terlelap sampai pagi dalam keadaan tanpa busana..
kamipun mengulanginya dipagi hari sebelum kami bersiap2 kekantor dan sampai sekarangpun kami masih melakukan hubungan badan disaat ada kesempatan…. seksigo

Dan yang perlu kalian ketahui, Rena selalu mendapat Donor Sperma setiap seminggu 3x..
entah dengan cara di BJ..HJ..ML sekalipun..
klo kita mau ML,, pasti sperma yang keluar pertama kali, selalu CIM dan dilahap bersih sama dia….
“Gugun.. peju Lu bikin semangat Gw bertambah”.. itu ucapan Rena yang selalu gw ingat..

Tuesday, July 19, 2016

Sekertaris Bahenol Yang Doyan Sex Bagian II

 CERITA SEX : Sekertaris Bahenol Yang Doyan Sex Bagian II

http://asnpk.com/app/Default0.aspx?lang=id

ASIANPOKER88 : Telah seminggu Rita menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Resepsi pernikahannya di Balai Kartini cukup meriah, dan aku datang dengan isteriku untuk menyampaikan selamat. Ketika aku menyalaminya, dia tertegun dan terasa agak kikuk dan serba salah, aku pun merasakan hal yang sama. “Terima kasih ya Pak”, katanya hampir tak terdengar. Di hatiku berkecamuk seribu macam pikiran, tapi kuusahakan untuk tetap wajar. Ritaku begitu cantik dan anggun dengan pakaian pengantinnya. Aku membayangkan bahwa sebentar lagi Rita kekasihku, isteriku, yang beberapa tahun telah memadu cinta denganku akan menjadi isteri orang.

Meskipun kutahu bahwa dia tetap mencintaiku, tapi secara resmi dia akan menjadi isteri orang lain, tentu tidak akan sebebas dulu ketika dia masih single. Sebentar lagi Rita akan tidur berdua-duaan dengan lelaki lain, mungkin untuk selamanya, karena aku pun tak ingin dia menjadi janda dan kalau Rita menjadi janda tentu akan menjadi gunjingan orang. Tidak, aku tak rela Ritaku menjadi gunjingan orang. Sekilas aku berpikir untuk mengakhiri saja hubunganku dengan Rita, karena dia telah menjadi isteri orang, tapi apakah bisa semudah itu aku melupakannya? Dunia rasanya sepi dan kejam, dan aku melangkah gontai meninggalkan pesta perkawinannya yang masih penuh tawa dan canda teman-teman dan keluarganya.
Beberapa hari setelah pernikahannya aku membenamkan diri dengan pekerjaanku, siang dan malam kusibukkan diriku dengan pekerjaan dan mengurus anak-anaku. Aku tak mau membayangkan, dan memang tak sanggup membayangkan sedang apa Rita beberapa hari setelah pernikahannya. Aku cemburu, marah, masgul, gundah jika membayangkan dirinya sedang bersenang-senang dengan suaminya yang tentunya sudah tak sabar ingin menikmati kemontokan dan kemulusan tubuh Rita, yang sudah resmi jadi isterinya. Aku membayangkan Rita telanjang bulat bersama suaminya, manja, bersenggama bebas tanpa takut oleh siapapun dan melenguh mesra seperti ketika bersenggama denganku.
Tiba-tiba aku sangat benci padanya, aku menganggap Rita nggak setia padaku, Rita telah mengkhianati cintaku, buktinya dia mau saja digilir oleh lelaki lain. Apakah itu yang namanya cinta dan kesetiaan? Aku bertekad untuk menjauhinya mulai sekarang, dan aku tak akan menerima teleponnya. Rita memang berjanji akan meneleponku paling lambat satu minggu setelah dia menikah dan sebelum ikut suaminya pindah ke Bandung.
Tidak! aku tak akan menerimanya jika dia meneleponku, biar dia tahu rasa, aku tak mau bekas orang lain. Benar saja, pada hari kelima setelah kawin dia meneleponku.
“Pak, ada telepon”, kata sekretarisku yang baru, pengganti Rita.
Anehnya, meskipun dia berparas lumayan, aku tak tertarik sama sekali dengan sekretaris baruku itu. Aku memang bukan type “hidung belang” yang sekedar mau iseng bercumbu dengan perempuan. Aku hanya jatuh hati dua kali seumur hidupku, kepada isteriku dan kepada Rita.
“Pak, kok melamun, ada telepon dari Ibu Rita, katanya bekas sekretaris bapak”, sekretaris baruku kembali mengagetkan lamunanku.
“Ooh.. ya.. ya.. sebentar Rani.., emh.. dari siapa? Rita? bilang saja Bapak sedang ke luar kantor ya!” aku mengajari dia bohong.
“Lho, Pak, kenapa? kan kasihan Pak, katanya penting sekali, dan besok Ibu Rita mau pindah ke Bandung”
Rani, sekretaris baruku itu mulai mendesakku untuk menerima saja telepon Rita itu. Aku sejenak merasa bingung, aku rasanya masih benci tapi juga sangat rindu sama Rita, apalagi kata Rani besok akan jadi pindah mengikuti suaminya yang bekerja di Bandung.
Setelah berfikir sejenak.. “OK, Rani, sambungkan ke sini!” dan aku agak gugup untuk kembali berbicara dengan Rita, untuk kembali mendengar suaranya, Rita yang sekarang sudah menjadi isteri orang lain.
“Halloo.., siapa nich?”, kataku agak malas.
“Papah, ini Rita Pah, Papah kok gitu sih?” jawab Rita di ujung sana.
“Oh, Nyonya Prayogo, saya kira Rita Prameswara kawanku”, kataku menggoda.
“Nggak lucu ah.., Mamah sekarang tanya serius, apa Papah mau nemui Mamah nggak sebelum besok Mamah pindah ke Bandung?”, jawabnya lagi setengah mengancam.

Aku bingung juga ditanya begitu, sebab jauh di dalam hatiku sebenarnya aku rindu berat sama Rita, tapi kebencian dan kekesalan masih menempel erat di benakku.
Beberapa jenak, aku nggak bisa menjawab sampai Rita nyerocos lagi.
“Mamah ngerti, Papah masih kesal dan benci sama Mamah, tapi kamu kan sudah setuju kalau Mamah terpaksa harus kawin, demi kebaikan hubungan kita dan demi menjaga nama baikmu juga. Papah, dengar! Mamah sudah seminggu nggak menstruasi lagi sampai sekarang. Ingat hubungan kita di Hotel Sahid terakhir kali? Sudahlah, nanti Mamah ceritakan lebih lengkap, sekarang mau nggak jemput Mamah di toko biasa di Blok M? Soalnya mumpung si Yudi pulang agak larut malam” Nama suaminya memang Yudi Prayogo dan hanya selisih dua tahun dengan Rita, katanya sih ketemu di kursus Inggris LIA.

Hatiku mulai melunak mendengar pengakuannya dan serta merta aku menyetujui untuk menjemputnya di Blok M. Aku memarkir mobilku di tempat parkir yang agak memojok dan sepi, maklum kami harus semakin berhati-hati, karena Rita sudah menjadi isteri orang. Rita segera hafal melihat mobilku dan setelah Rita duduk di sampingku, segera kukebut lagi keluar Blok M menuju ke utara melewati Sisingamangaraja, Sudirman, naik jembatan Semanggi terus memutar ke jalan Jenderal Subroto dan dengan cepat masuk ke halaman parkir Hotel Kartika Chandra. Rita terlihat lebih cantik, sedikit gemuk dan tambah bersih dan putih mukanya. Rambut dan bulu-bulu halus di sekitar jidatnya terlihat hilang, mungkin karena dikerok oleh perias pengantinnya.

Dia mengenakan celana panjang merah dan T-Shirt putih kembang-kembang ditutupi blazer warna hitam. Terlihat serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Banyak yang nyangka dia keturunan Tionghoa, padahal Jatul. Tahu jatul? Jatul itu “Jowo Tenan” atau “Jawa Tulen”. Ibunya dari Purwokerto dan bapaknya dari Surakarta, katanya sih masih kerabat Kesultanan Surakarta, masih trah langsung Raja Paku Bowono. Setelah check-in sebentar, aku sudah berdua-dua dengan Rita di kamar hotel, dan untuk pertama kalinya aku berduaan dengan isteri orang. Ada perasaan berdosa menyelinap di hatiku. Tapi semuanya menjadi hilang karena betapa besarnya cintaku pada Rita. Juga sebaliknya, jika Rita tak mencintaiku, mana mungkin dia berani bertemu dengan lelaki lain padahal dia baru kawin lima hari lalu?

“Papah, Rita sedang mengandung janin anakmu, biasanya tanggal lima minggu lalu Mamah menstruasi ternyata nggak keluar sampai sekarang”, Rita menambahkan keterangannya tadi di telepon, dan aku semakin cinta dan sayang rasanya. Tapi tetap saja ingin menggodanya dan mengetes cintanya padaku.
“Oh, ya, hampir lupa, gimana dong bulan madunya kemarin, ceritain dong Rit! pasti seru dan rame dengan lenguhan. Dan apa suamimu nggak ribut tanya perawanmu kaya Farid Hardja?” Rita mendelikkan matanya dan mencubit pahaku keras sekali.

“Percaya atau tidak terserah Papah, yang pasti nggak ada lenguhan, nggak ada goyangan, persis kaya gedebong pisang. Si Yudi memang sempat marah-marah karena mungkin Mamah ternyata begitu dingin dan nggak gairah. Tapi memang nggak bisa dipaksakan. Mamah hanya bergairah kalau bersenggama dengan Papah. Dia nggak nanya tuh, kenapa nggak ada darah perawan Mamah di sprei, ah.. sudah.. sudah! nggak usah tanya gitu-gituan lagi. Nanti malah berantem terus. Pokoknya Mamah sayaang benar sama Papah, nggak ada duanya deh”.
Seperti bisa dia mulai mencopoti pakaianku satu persatu, sampai CD-ku dia pelorotin juga.

Begitu di buka CD-ku, penisku langsung bergerak liar dan setengah tegang begitu tersentuh tangan halus Rita. Tak buang waktu lama, Rita melemparkan semua pakaiannya ke lantai karpet sampai terlihat bodinya yang seksi, putih mulus dengan puting susu yang semakin ranum. Mungkin pengaruh dari kehamilannya meskipun baru beberapa hari mengandung anakku. Penisku yang masih setengah tertidur langsung dikulumnya ke dalam mulutnya dan dihisapnya dalam-dalam, padahal aku masih berdiri seperti patung dengan bersandar ke tembok. Dengan ganas dia menghisap, menggigit dan menyedot penisku dalam-dalam sampai penisku mentok ke langit-langit mulutnya. Tak lama penisku langsung tegang dan memerah dan mengkilap bercampur ludahnya.

“Ooogghh.. Maahh.. terus Maahh.. jilaat.. oogghh..” Aku mulai terangsang dan kenikmatan setiap penisku dihisapnya. Rita memang suka sekali menjilat dan menghisap penisku, tapi ketika kutanya apakah dia juga menghisap penis suaminya, dia bilang amit-amit, nggak nafsu katanya. Mulut Rita pindah menghisap dan menjilat penisku, dia juga senang menggigit-gigit dua bakso penisku, sampai aku kesakitan campur geli dan nikmat bukan kepalang. “Oooghh.. Maahh.. jangan digigit, Papah sakiitt”. Aku minta Rita berhenti dulu mengulum batang penisku, aku juga sudah rindu untuk menjilat vagina dan klitorisnya. Kuminta Rita tiduran di pinggir tempat tidur empuk itu dengan kaki terjuntai ke bawah, dengan begitu aku bisa duduk di tengah-tengah selangkangannya. Vagina dan klitorisnya terlihat jelas kalau begitu.

Oh, begitu indah dengan warna merah jambu klitoris dan lubang vaginanya terlihat jelas di hadapan mukaku. Kujilat dengkul dan pahanya, terus merayap kujilati selangkangannya yang mulus, sesekali kujilatkan lidahku ke lubang pantat, klitoris dan lubang vaginanya, Rita melenguh-lenguh tertahan. “Oooghh, Papaahh.. eemghh, aduuhh.., teruuss.. Paahh.. ooghh.. enaakk.” Kalau Rita sudah mulai melenguh begitu aku semakin bernafsu untuk terus menjilat, mengigit dan menyedot-nyedot klitoris dan lubang vaginanya sambil menyedot air maninya yang mulai meleleh keluar dan lubang vaginanya. Oh, nikmat.. manis dan sedikit asin, kaya kuah asinan Bogor. Kukeraskan lidahku supaya semakin tegang dan kutusukkan ke dalam lubang vaginanya, Rita semakin melenguh keenakan, karena mungkin lidahku terasa seperti penis menyodok-nyodok semakin ke dalam lubang vaginanya.

Cairan vaginanya semakin banyak keluar dan kuhisap dan kutelan dengan nikmat. Kadang-kadang rambut kemaluan Rita ada yang putus dan ikut termakan. “Paahh.. ooghh.. Paahh.., enaakk, teruuss.. Paahh.. oogghh.. aduuhh”, Rita semakin ramai, barangkali suaranya terdengar tamu di sebelah atau room-boy yang sedang lewat. Kujilatkan lidahku ke lubang pantatnya berkali-kali Rita bergelinjang kegelian. “Papaahh.. gelii..” penisku menggesek pahanya yang mulus sehingga semakin tegang. “Paahh.. penisnya geli tuch di paha Mamah, udahan dulu ngisepnya sayang.., kesini deh, cium Mamah dan masukin penisnya.”
Kuhentikan jilatan lidahku, memang sudah mulai pegal juga menegangkan lidahku hampir seperempat jam. Kugeserkan badanku ke atas, sejajar dengan tubuh Rita dan sambil kulumat mulutnya dalam-dalam kugesekan penisku ke vaginanya yang basah, oh..

betapa nikmatnya. Kukulum dan kugigit lidahnya. Rita menjerit tertahan, kemudian kujulurkan juga lidahku dan dia balas menggigit lidahku dengan bernafsu. Aku gantian teriak, sampai keluar sedikit air mata. Untung kenang-kenangan kalau Rita di Bandung katanya. Kujilati kupingnya, jidatnya, hidungnya, matanya sampai Rita menggelinjang-gelinjang ketika kujilati dan kugigit kupingnya. “Tuuhh.. Paah lihat, sampai merinding, “katanya manja. “Paahh, masukin penisnya Paahh, Mamah sudah rinduu.”
Rita melenguh manja. Rita merenggangkan selangkangannya untuk membuka lubang vaginanya lebih lebar lagi. Penisku yang tambah keras nyasar-nyasar di lubang vaginanya setelah menembus bulu-bulu vaginanya yang mulai basah dan “Bleess..” Rita berteriak keenakan sambil menggigit bibirku.

“Paahh.., oogghh.., pelaan pelaann.. doongg.” Matanya terpejam, nafasnya yang harum dan bau mulutnya yang wangi masuk semua terhirup oleh hidungku. Kutarik dan kutekan penisku semakin kuat dan sering, keringatku semakin bercucuran, mungkin berkat bir hitam cap kucing yang kuminum sebelum bermain dengan Rita tadi. Rita juga semakin mengencangkan goyangan pinggul dan pantatnya turun naik sampai aku merasakan kepala penisku mentok di ujung lubang vaginanya. “Paappaahh.. oogghh.. teruuss, cumbu Mamaah Paahh.., Mamaahh cintaa, Mamaahh.. sayy.. ooghh.. aduuhh.. aangg.” Rita semakin ramai mengerang dan melenguh tak peduli suaranya akan didengar orang.

Kuminta Rita menungging setelah kucabut penisku. Rita menurut dan wow! aku selalu semakin bernafsu kalau melihat pantat dan pinggul Rita yang mulus dan seksi. Sambil setelah jongkok, aku menyodokan penisku dari belakang setelah membuka lubang vaginanya sedikit dengan tanganku dan, “Bleezz”, Rita berteriak keenakan. “aagghh, ooghh.. Paahh.. terus genjot Paahh.. woowww.. enaakk Paahh..” aku semakin mengencangkan sodokan penisku. Rita melenguh, merintih dan teriak-teriak kecil sementara itu keringat kami semakin bercucuran membasahi seprei. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa setiap mempraktekkan berhubungan badan dengan gaya “doggy style” sehingga spermaku mulai meleleh keluar, semakin

meramaikan bunyi gesekan penisku dengan vagina Rita. Rita semakin menunggingkan pantatnya sehingga penisku semakin amblas di dalam vaginanya. Rasanya air maniku sudah mengumpul di kepala penisku menunggu dimuntahkan habis. “Maahh.. ooghh.. aduuhh.. Maahh, vaginanya enaakk.., punya Papah yaa sayaang..” Rita menjawab sambil merintih “Iyaa.. sayaangg, semuanya punya Papaahh.” Kusodokkan penisku semakin dalam. “Maahh.. adduuhh.. Papaahh.. moo keluaarr! cabut dulu ya Maahh..” Rita setuju dan segera telentang kembali. Aku segera menggumulinya dari atas badannya, kulumat pentil buah dadanya. Rita kenikmatan dan minta penisku segera dimasukan kembali ke vaginanya. Dia minta aku merasakan

kenikmatan bersenggama dengannya, sampai nanti bertemu lagi di Bandung dengan segala cara. Kumasukan kembali penisku ke vaginanya yang semakin basah dengan cairan sperma kami yang sudah bercampur satu.
“Bleesszz, crroockk.. chhoozkk.. breesszz.. crrockk.. bunyinya semakin gaduh. Rita semakin membabi buta menggoyang dan menaik-turunkan pinggulnya dan aku juga demikian. Kutekan dan kucabut penisku yang panas dan keras ke lubang vaginanya. Ingin rasanya kutumpahkan semua sperma dan spermaku ke lubang vagina dan rahim Rita supaya anakku semakin sehat dengan tambahan vitamin dan mineral dari sperma bapaknya. Supaya kegantengan dan kepintarannya juga turun ke anakku yang ada di dalam rahim Rita.

Tiba-tiba kami merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, kami meregang dan melenguh bersama-sama merasakan sorga dunia yang tiada taranya, meregang, meremas dan memeluk erat-erat dua badan anak manusia yang saling mencinta dan seakan tak mampu terpisahkan. Rita mengejang badannya dan menggigit bibir dan lidahku, pinggulnya terangkat sambil berteriak. “Papaahh.. ooghh.. Mamaah.. ooghh, keluaar.. sayaangg”, sambil mencubit dan mencakar punggungku.
Mendengar lenguhan dan teriakan ejakulasi Rita, aku pun mulai tak tahan menahan desakan air maniku di kepala penisku dan sambil menekan dalam-dalam penisku di vaginanya aku berteriak sambil mengejang, kugigit lidahnya, “Maahh.. oogghh.. Papaahh.. jugaa.. keelluuaarr.. ooghh.. sayaangg.. nikmaatt.” Kami tertidur sejenak sambil berpelukan dengan mesra dan tersenyum puas, waktu sudah menunjukkan jam delapan lewat lima menit, berarti kami bermain selama hampir dua jam lamanya.

Oh, betapa nikmat dan puasnya. Aku memeluk dan menciumi Rita erat-erat seolah tak ingin berpisah dengan kekasihku dan isteriku tercinta, karena besok dia sudah akan pindah ke Bandung. Rita berjanji untuk memberitahukan nomor telepon rumahnya di Bandung dan aku diminta untuk datang paling tidak seminggu sekali. Sudah satu bulan berlalu, sejak pertemuanku terakhir dengan Rita di Jakarta. Aku terkadang sangat rindu dengannya, tapi kutahan perasaanku dengan menyibukkan diriku pada pekerjaan yang semakin menumpuk sejak aku mempimpin cabang Slipi. Maklum, para pengusaha nasabah bank dimana aku bekerja semakin banyak saja, hal ini karena keberhasilan marketing-ku. Aku sengaja bekerja all-out siang malam, dengan menjamu langgananku sambil makan malam dan karaoke.

Aku ingin melupakan Ritaku yang sekarang sudah jadi isteri orang, tapi bayang-bayang kemesraan selama beberapa tahun dengannya seperti suami isteri tak mudah rupanya untuk dilupakan begitu saja. Sekretarisku yang baru memang cantik, lebih muda dan menarik, tapi anehnya aku sama sekali tak tertarik dengannya, barangkali memang aku bukan tipe lelaki “play-boy” yang gampang gonta-ganti pasangan. Cintaku sudah direbut oleh Rita tanpa peduli bahwa dia sudah menjadi isteri orang. Tapi aku tak menyesali pertemuan dengan Rita, aku tetap mencintainya dengan sepenuh hati.
Oh, rupanya aku melamun terlalu lama, sehingga aku merasa malu ketika sekretarisku Rani masuk membawa setumpuk dokumen.

Cerita Sex
“Pak, kok melamun?” sapanya ramah, sambil tersenyum manja.
“Ah, oohh.. eng.. nggak.. kok”, kataku tergagap.
“Pak, dokumen-dokumen ini perlu segera ditanda-tangani Bapak, sebab nanti siang Pak Yusuf Pramono akan mengambilnya”, kata Rani lagi.
“Okay, tinggalkan saja dulu, nanti saya panggil lagi kamu setelah kutandatangani”, kataku datar. Rani menaruh beberapa map “feasability study” untuk beberapa proyek pabrik konveksi yang mengambil kredit dari bank dimana aku bekerja. Dia keluar ruanganku dengan lirikan matanya yang semakin manja. Ah, boleh juga tuh cewek pikirku, bodinya cukup montok, hitam manis dengan buah dada yang terlihat menonjol besar keluar dari blousenya. Tapi setiap aku kepingin iseng-iseng menggoda Rani bayangan wajah Rita selalu berkelebat di depan mataku, seakan mengingatkan janji dan kesetiaanku.

Ah, kamu mau menang sendiri Rit! gumamku dalam hati, sedangkan kamu nikmat-enakan dengan suamimu. Aku selalu membayangkan Rita telanjang bulat setiap malam dengan suaminya dan bermain cinta di ranjang berdua, tanpa takut ketahuan orang, tanpa takut diganggu orang karena memang suami-isteri sah dan lupa pada diriku. Kemudian pada akhir klimaks-nya Rita melenguh dan meregang sambil memuji sayang suaminya, sama seperti dilakukannya padaku. “Uuh! kamu memang nggak setia Rita! kamu tega meninggalkan aku sendirian di Jakarta, sedangkan kamu nikmat-enakan tiap malam ngentot dengan suamimu. Kamu bilang nggak cinta, tapi lama lama kamu suka juga dimasukin penisnya! Brengsek kamu Rita!! dan bodohnya aku tetap saja setia menunggu barang bekasan lelaki lain.”

Sekretarisku masuk lagi ke ruang kerjaku, ada apa pikirku, belum dipanggil kok masuk lagi. Jangan-jangan dia memang sudah kegatelan mau kucumbu. Aku sudah mempunyai pikiran buruk untuk menggodanya untuk mengobati kekesalanku pada Rita dan aku hampir yakin bahwa dia pun pasti menginginkan aku berbuat sesuatu yang mengasyikan padanya.
“Ada apa lagi?” kataku pura-pura tetap berwibawa seperti biasanya.
“Anu, Pak.. ada telepon dari Ibu Rita, Bandung!” katanya mengandung curiga. “Hah, Rita! Ada apa lagi dia, mau cerita asyik-masyuk pengantin barunya dengan si Yudi itu?” pikirku dalam hati. “Cepat, sambungin ke sini!” jawabku cepat dan spontan. Heran, setiap kudengar nama dia, apalagi akan mendengar suaranya setelah hampir sebulan tidak ketemu, kebencian dan cemburuku pada suaminya seperti mendadak hilang tak berbekas. Sekretarisku bergegas keluar kembali untuk menyambungkan saluran telepon dari Rita, terlihat raut mukanya agak ditekuk.

Aku yakin dia nggak begitu suka jika Rita telepon, mungkin juga cemburu, karena dia tahu aku punya hubungan khusus dengan bekas sekretarisku itu.
“Hallo, Papah, ini Mamah, apa khabar sayang?” suara Rita di seberang sana terdengan merdu di kupingku.
“Baik saja kok, kamu gimana?” kataku datar.
“Pah, Mamah sangat rindu deh, kapan Papah mau ke Bandung?” jawabnya lagi.
Tiba-tiba timbul pikiranku untuk menggodanya, sekaligus menumpahkan kekesalan dan kecemburuanku.
“Ah, masa sih kamu kangen saya, kan tiap malam ada teman sekasur, nikmat lagi, nggak takut ketahuan orang, tiap jam, tiap saat mau mainkan tinggal buka celananya, penisnya gede lagi, pasti kamu melenguh keenakan!” jawabku nyerocos seenaknya dan rasanya plong hatiku setelah mengatakannya.
“Papah, kok gitu sih? Papah jahat deh, Mamah nggak nyangka Papah bicara begitu, padahal setiap detik, setiap hari Mamah rindu padamu!” ungkapnya dengan nada agak tinggi. Aku terdiam, nggak tahu mau ngomong apa lagi.


“Pah, kamu masih mau denger Mamah nggak?” Rita berkata lagi.
“Pah, Mamah interlokal nih, jadi mesti menghemat, Mamah kan isteri pegawai kecil, mesti ngirit, masih mau dengar nggak?”
“Iya, iya, aku masih dengar kok, terus saja ngomong, aku dengerin”, kataku sekenanya.
“Papah kok gitu sih, Papah kelihatannya nggak rindu sama Mamah? ya sudah, Mamah tutup teleponnya ya!” serunya mulai emosi. Aku masih saja mau menggodanya, rasanya kesal dan cemburuku belum hilang betul.
“silakan, memangnya siapa yang telepon duluan?” lanjutku lagi.
“Oh, gitu ya, kamu memang egois, kamu nggak mau ngerti, mau menang sendiri, kamu selalu mengungkit perkawinanku, padahal semuanya terjadi bukan karena mauku.

Kenapa dulu Papah nggak berani mengawini Mamah? Jawabnya karena Papah sudah punya anak, isteri dan kedudukan tinggi. Apakah itu bukan egois namanya? Tapi Mamah tetap menyintaimu dengan sepenuh hati, apa Papah pikir Mamah juga nggak cemburu, bertahun-tahun mencintai laki-laki yang sudah jadi suami orang? Apa Mamah harus jadi perawan tua dan hanya selingan kamu?”
Terdengar suaranya mulai keras dan terbata-bata, mungkin menahan tangis.
“Ya sudah, Mamah nggak bakalan telepon Papah lagi, biarlah Mamah menanggung rindu dan mencintai Papah sampai mati, Mamah nggak akan ganggu Papah lagi kalau memang sudah tidak dibutuhkan! Tapi kamu mesti ingat Pah, bahwa bayi di kandungan Mamah adalah anakmu, bayi ini adalah darah dagingmu, kamulah yang membentuk dan menjadikan janin anakmu ini, si Yudi bukan bapaknya yang sesungguhnya, dia nggak tahu bahwa aku sudah mengandung benih anakmu ketika kawin.”


Rita terdengar menutupi kesedihannya dengan omelan panjang yang memerahkan kupingku. Ah, dasar perempuan, kalau sudah merajuk dan mengamuk, hatiku selalu luluh dengan perasaan cintaku kepadanya, cintaku yang memang sangat mendalam dan tidak bisa terlupakan, apapun yang terjadi dan bagaimanapun status Rita sekarang yang sudah menjadi Nyonya Yudi Prayogo. Aku takut Rita segera menutup teleponnya, makanya segera kularang dia.
“Mah, tunggu! jangan tutup dulu teleponnya, oke..oke.., maafkan Papah, Papah juga rindu, Papah sayang, Papah selalu mencintaimu, kamu dengar itu sayang?” aku menyerocos tak terkendali, menumpahkan perasaanku yang sesungguhnya.

“Ya sudah, tak apa, Mamah selalu memaafkan kamu, sekarang catat nomor telepon Mamah dan Mamah tunggu kamu di Bandung segera kalau Papah masih sayang Mamah, mumpung si Yudi lagi tugas seminggu ke Malang!” perintah Rita. Kucatat nomor teleponnya dan aku berjanji untuk segera datang ke Bandung menemuinya, kasihan Ritaku kesepian dan sangat merindukanku. Aku janji untuk datang hari Jumat sore dengan kereta Parahyangan dan menginap di Hotel Kumala Panghegar. Aku sengaja tidak bawa mobil dan sopirku sebab bisa berabe nanti kalau sopirku tahu aku masih berhubungan dengan Rita.
Pada Jum’at sore aku sudah tiba di stasiun kereta api Bandung dan temanku kepala cabang di Bandung telah siap menjemputku di stasiun.

“Gila lu Zen, kau rupanya masih juga berhubungan sama Ritamu itu!” katanya sambil menepuk bahuku, setelah kami bertemu di stasiun. Aku hanya tersenyum saja. Togar Sihombing temanku itu memang satu-satunya sejawatku yang mengetahui hubungan intimku dengan Rita, sejak Rita masih menjadi sekretarisku. “Hati-hati kamu Zen, di sini kamu lagi bertamu, nanti ditangkep satpam suaminya tau rasa kau!” katanya meledek. Karena rahasiaku dan Rita memang sudah di tangannya, aku tak sungkan-sungkan meminta supaya Togar bisa jemput Ritaku dari rumahnya di daerah Pasir Kaliki dan dibawa ke kamar hotelku. Aku suruh dia mengatur segalanya, termasuk keamanan hotel Kumala Penghegar, agar aku bisa tenang dan santai dengan Ritaku semalam suntuk, bahkan kalau bisa sampai minggu pagi.


Kira-kira satu setengah jam aku menunggu di kamar hotel, pintu diketuk dari luar dan waktu kubuka pintu kamarku, ternyata Ritaku sudah berdiri sendirian. Dia tersenyum manis dengan lipstik merah tua tipis, kontras dengan mukanya yang putih mulus. Badannya semakin bersih dan montok, mungkin pengaruh kandungannya yang jalan dua bulan, sehingga buah dadanya terlihat semakin membesar dan pinggulnya semakin bulat berisi. Terlihat perutnya sedikit membesar dan itu semakin membangkitkan gairahku. Kata orang, wanita yang sedang hamil dua atau tiga bulan itu sedang cantik-cantiknya dan akan sangat menggemaskan laki-laki yang melihatnya, apalagi dalam keadaan polos. Kuraih tangannya dan kutarik dia ke kamarku. Setelah mengunci kamar dengan double-locked, kupeluk dan kucium dia dengan penuh kerinduan, Rita membalas hangat. Kuminta air liurnya seperti biasa ketika kami berciuman dan kutelan dalam-dalam ludahnya yang tetap wangi itu. Baru aku sadar untuk menanyakan kawanku Togar, setelah Rita melepaskan ciumanku yang menggebu-gebu sehingga terengah-engah kehabisan napas.

“Kemana si batak itu?” tanyaku.
“Dia pulang dulu katanya, setelah mengantar Mamah sampai ke pintu kamarmu”, jawab Rita. Tahu betul tuh batak satu.
“Kok, Papah kelihatan kurusan? katanya lagi sambil memandangiku dari ujung kaki ke ujung rambut.
“Masa? barangkali kurus mikirin kamu. Apa khabar sayang? senang ya hidup di Bandung?” dia merebahkan badannya di pelukanku, sehingga aku terdorong rebah ke ranjang karena Rita semakin berat badannya.
“Apa kabarnya suamimu? Kok punya isteri cantik ditinggal-tinggal terus”, godaku muncul lagi.
“Ah, sudahlah, nggak usah nanya dia, namanya juga pegawai rendahan, harus mau ditugaskan ke mana saja.” Jawab Rita.
“Pah, Mamah kangen dan rindu banget deh”, katanya lagi sambil berbalik menindih tubuhku. Oh, Ritaku semakin bahenol saja badannya, dan buah dadanya yang semakin montok menekan dadaku.
“Hati-hati dengan perutmu sayang, nanti anak kita kejepit.” Rita tak peduli, dia terus merangsek dan menciumi seluruh mukaku dan kupingku sehingga seluruh tubuhku merinding dibuatnya.
“Ooohh.. Papah, Mamah gemes dan rindu deh!” ujarnya sambil menjulurkan lidahnya yang harum ke bibirku, tentu saja kusambut hangat dan segera menghisap lidahnya dalam-dalam sambil kugigit sayang.

Rita melotot manja, “aachh.. sakiitt dong Paahh!” Kukulum lagi lidahnya dan kusedot sambil memejamkan mataku, Rita mulai melenguh bahagia sambil sekali lagi menumpahkan liurnya untuk kuhisap dan kutelan dalam. Kubalikkan badannya pelan-pelan karena Rita sedang berisi, dan segera saja kubuka pakaiannya. Rita diam saja dengan mata terpejam. Kulempar satu persatu roknya, blousnya, blazernya, dan terakhir celana dalamnya. Oh, Ritaku semakin montok dan menggairahkan. Pahanya, betisnya yang putih bersih, ditumbuhi bulu-bulu halus, pinggulnya semakin montok berisi dan vaginanya dengan bulu-bulu hitam tipis kemerahan semakin menggairahkan. Kujilati badannya mulai dari ujung kaki, naik ke betis, paha dan bermuara di selangkangan dan vaginanya. Rita mulai menggeliat-geliat kegelian.

“Paahh, oogghh Mamah rindu jilatanmu seperti ini, oogghh.” lenguhan Ritaku baru lagi kudengar setelah dua bulan tidak ketemu. “Papah buka pakaiannya dong!” kata Rita mulai nggak sabar. Aku segera menanggalkan seluruh pakaian yang melekat dan ketika CD-ku kulepas, penisku langsung mencuat keluar dengan tegang. Rita tersenyum manja dan langsung menyergap penisku dengan kuluman mautnya.
“Paahh.. Mamah rindu penis inii, eemmgghh enaakk Paahh, kok sudah assiinn?” Mulutnya menyedot-nyedot penisku sambil mundur maju, aku merasakan kenikmatan luar biasa. Rita mengigit-gigit batang penisku yang mulai menegang seperti kayu.

“Maahh, oogghh teruuss oogghh, tapi jangaann ooghh, keras-keras gigitnya!” aku mulai merem-melek keasyikan. Rita semakin kencang menghisap-hisap penisku sambil memejamkan matanya, sementara buah-dadanya berayun-ayun ketika dia menaik-turunkan mulutnya sampai batang penisku masuk semua di mulutnya.
“Paah, sudah keluar lendirnya, asiin!” sambil menelan cairan penisku, dan hisapannya semakin menjadi-jadi di kepala penisku sambil menghisap-hisap lendir penisku. “Eeemmhh.. enaak Paahh.” Aku semakin merem melek sambil menggapai buah dadanya, dan ketika tanganku berhasil meraihnya, kuremas-remas buah dadanya yang semakin kenyal dan kupilin putingnya yang kemarahan seperti buah delima matang.

“Maahh.. oogghh.. udaahh duluu yaang, Papah nggak tahaann.. ooghh.” Aku menggelinjang kuat ketika hisapannya semakin asyik di kepala penisku. “Sekarang giliran Mamah yang tidur.” Rita telentang pasrah, kedua kakinya kurenggangkan, kuusap-usap perutnya yang mulai kelihatan sedikit buncit mengandung anakku. Kubenamkan mukaku di selangkangannya sambil kujilat kedua selangkangannya dan dengan cepat kujilat pula lubang duburnya. Rita selalu nggak tahan kalau kujilat lubang pantatnya. Dia menggelinjang kegelian sambil merintih. “Aduuhh, Papah jahaat!” Kumainkan klitorisnya dan lubang vaginanya dengan lidahku dan kukeluarkan ludahku membasahinya sehingga terasa semakin nikmat ketika kuhisap cairan vaginanya yang sudah mulai keluar bercampur ludahku. Asin, manis dan gurih. Kutelan dalam-dalam. Rita mulai menaik-turunkan pinggulnya kegelian.

“Paahh, eemmgghh.. oogghh, teruuss.. Paahh, lidahnya kayak kontool.” Dia terus melenguh seperti biasanya, dan lenguhannya ini yang tak bisa kulupakan. Lidahku yang tegang semakin kujulurkan ke dalam lubang vaginanya, kumainkan klitorisnya dengan lidah digetarkan, Rita menggelinjang hebat. Rongga-rongka vaginanya kulumat dan kujelajahi dengan lidahku, sementara bibirku melumat kelentitnya yang memerah.
“Oooghh.. Papaahh.. nikmaat.. teruuss Paahh! Rita menaik-turunkan pantatnya semakin tinggi, sehingga lidahku seperti penis menancap dalam di vaginanya.

“Aduuhh.. Paahh.. oogghh.. Paahh, Mamaahh.. oogghh.. enaakk!” mulai deh Rita melenguh panjang. “Paah, hayo naik deh, Mamah sudah nggak tahan, masukin cepet penisnya sayaang!” Rita semakin melebarkan selangkangannya dan menggapai badanku. Aku bangun dan menidurinya dengan hati-hati karena sekarang Rita sedang berbadan dua. penisku sudah keras seperti batu dan mengangguk-ngangguk gagah mencari mangsa. penis pun tahu bahwa kesukaannya ada di depannya, vagina Rita memang sudah tak asing lagi buat penisku sehingga begitu bersentuhan saja langsung mengeras bukan main. Seperti batu! Dan Rita memang nggak bakal lupa dengan keperkasaan penisku yang mulai dikenalnya sejak dia perawan, untuk pertama kali menikmati penis lelaki.

Kugesekan penisku di pahanya, Rita kegelian, dan memberikan kode supaya langsung ditancapkan ke vaginanya yang sudah menganga, basah, hangat dan mulai menyedot-nyedot mencari mangsa. Kubenamkan kepala penisku sedikit demi sedikit, oh hangatnya vagina Rita dan vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot, empot-ayamnya mulai main. Kutarik lagi penisku, sehingga pinggul Rita ikut naik karena sudah tidak sabar ingin melumat penisku. Kubenamkan lagi batang penisku perlahan, Rita menaikkan pinggulnya ke atas, sehingga batang penisku setengah ditelan vaginanya. Pinggulnya diputar-putarkan sambil mengeluarkan jurus “empot-ayamnya”.

“Ooogghh, Mamaahh.. uughhgghh.. nikmaatt aduhh.” Desahanku membuat Rita semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya, hingga batang penisku semakin amblas ditelan vaginanya yang tetap saja sempit.
“Paahh tekaann Paahh.. Mamaahh.. oogghh.. nikmaatt sekalii.” Pinggul Rita dan badannya semakin bahenol dan seksi, perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi. Kuganjal pantatnya dengan bantal dan aku setengah duduk dengan bertumpu pada dengkul menggenjot penisku keluar masuk vagina Rita yang semakin naik ditopang bantal sehingga seluruh rongga vaginanya terlihat jelas. “Bleess.. creekk.. blees.. creekk, gesekan dahsyat penis dan vaginanya yang empot ayam semakin ramai saja. Daging vaginanya terlihat seperti terbawa ketika kucabut batang penisku saking sempitnya. Dan “empot-ayam”-nya dikeluarkan kalau senggama dengan aku saja katanya, sedangkan dengan suaminya tetap seperti layaknya “gedebong pisang”.

“Paah.., aduuhh, Paahh.., kontoolnya ooghh, Mamaahh.. nggaak tahaan.. Paahh!” Rita seperti nggak ingat sedang hamil, badannya bergetar, pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan penisku yang perkasa.
“Paahh.. ooghh.. eemmghh.. oozzhh.. aauugghh.. eemmhh.. teruuzshh.. tusuukk.. Paahhghh”, lenguhan itu yang sangat kudambakan. Aku seperti lelaki yang sangat dibutuhkan Ritaku, tidak ada lelaki lain yang bisa memuaskannya lahir batin.
Aku semakin gila menyodokkan penisku keluar masuk vagina Rita, kuangkat kaki kirinya ke atas dan kutenggelamkan seluruh batang penisku sampai terasa mentok di ujung lubang vaginanya.

“Ooogghh.. apaahh.. uughhzz.. Papaahh.. nikmaatt.. ooghh.. teruss.. aduuhh.. teruuss, Mamaahh.. maoo.. keluaarr!” Rita berteriak-teriak keras sekali sambil seluruh badannya bergetar dan bergoyang, keringat kami bercucuran seperti habis mandi membasahi sprei. “Paahh, kenapa dicabut?” Rita mendelik waktu penisku mendadak dicabut dari lubang vaginanya. Rita tersenyum lagi ketika kuminta dia menungging, supaya kami bisa bermain dengan “doggy style”. Wow, pinggulnya yang putih mulus semakin berisi dan bahenol saja menambah nafsuku semakin menjadi, ketika Rita menungging. Kuhisap dan kujilat lendir vaginanya dari belakang, sekalian lubang pantatnya, Rita melenguh panjang. Dia memang paling geli kalau dijilat lubang pantatnya. “Papaahh.. aduhh.. Mamaahh, nggak tahaan doongg..

Cepat masukin penisnyaa!” teriak Rita sambil menunggingkan pantatnya, sehingga terlihat vaginanya yang merah jambu dan sedikit basah itu. Penisku yang lagi tegang-tegangnya kuarahkan ke lubang vaginanya seperti mengarahkan meriam “Si Jagur” siap menembak tank-tank belanda. Dan.. “Bleesszzhh..” penisku menyeruak ke dalam “gua kenikmatan dunia” Ritaku. Rita kembali melenguh panjang. “Paahh.. oogghh.., teruuss kocookk sayaang!” Aku mulai menarik dan membenamkan batang penisku keluar masuk lubang vaginanya yang terasa semakin sempit dan menyedot-nyedot kalau bersenggama dengan “doggy style” kesukaan kami berdua. “Ooogghh.. Maahh, Papah enaakk.. oogghh.. hhzz.. aahzzoogghh.. duuh.. Maahh.. aa.. duuhh gilaa.. yaangg, teruuss goyaang.. cakeep!” Rita memundur-majukan pantat dan pinggulnya semakin cepat sehingga bed kamar hotelku berderit-derit bunyinya.

Keringat kami jatuh bercucuran. Nikmat sekali rasanya bersenggama dengan kekasihku tersayang ini. Jiwa raga kami rasanya bersatu-padu.
“Aduuhh.. Papaahh.. oogghh.. enaakk.. Paahh, teruuss Paahh genjot.. teruuss.. aahh.. lebih kenceng, oogghh.. aahhzzhh.. duhh”, badan Rita berguncang-guncang keras, goyangan pinggul dan pantatnya tambah menggila dan lubang vaginanya seakan mau melumat habis dan mematahkan batang penisku. Air maniku rasanya sudah mengumpul di kepala penisku, siap disemprotkan kapan saja kalau mau, tapi aku mau agar Ritaku dulu yang klimaks supaya dia puas. Belum tentu kami bisa ketemu seminggu sekali, padahal dia pernah bilang bahwa kalau kami bisa kawin mungkin bisa berhubungan badan setiap malam, karena penisku terasa nikmat sekali rasanya katanya suatu hari sambil melumat lendirku yang keluar di mulutnya, dan Rita nggak geli menelan semua air maniku.
“Paahh.. Mamaahh.. oogghh.. Paahh.. aaduuhh.. oggzz.. giillaa.. aahh.. oogghh.. Mamaahh.. ooghh.. Maauu keluaarr!”

“Tungguu sayaangg.. Mamaah berbalik dulu telentang lagi”, perintahku, kami sudah hampir mencapai orgasme. Kucabut penisku, Rita kemudian telentang dengan kedua kaki dibuka lebar. Vagina dan lubang pantatnya kubersihkan dulu dengan jilatan lidahku penuh nafsu. Kutelan habis cairan vaginanya yang asin, wangi dan gurih itu. Dia menggelinjang sambil bergumam “Aduuhh, oogghh, Papah jahaat!” sambil tersenyum manja dan matanya merem-melek. “Cepetan masukin lagi penisnya Paahh, Mamah sudah nggak tahan nih!” Aku segera menaiki tubuhnya dengan hati-hati takut kandungannya tertekan dan anakku kesakitan. Kuarahkan lagi batang penisku yang sudah merah legam seperti batu dibakar untuk siap bertempur sampai titik darah putihku terakhir, demi untuk Ritaku tersayang.

Dan.. “Bleezzhh” dan Rita melenguh panjang sekali “Ooogghh Paahh.. kocookkhh yangghhzz..” Kutarik cepat penisku sampai kepalanya nongol ke permukaan vaginanya dan seketika itu juga kubenamkan habis batang penisku ke lubang vaginanya sampai terasa mentok. Rita melenguh panjang. “Ooogghh Paahh aduuhh gilaa nikmaat.” Kucabut lagi batang penisku tiba-tiba dan kubenamkan lagi kuat-kuat ke dalam vaginanya, dengan style agak miring, terkadang dari lubang sebelah kanan, terkadang masuk dari lubang sebelah kirinya, membuat Rita terbuai kenikmatan luar biasa. “Oooww oogghh aahh Papahh enaakkhh duhh ampuunn duuhh ooghhz.. Paahhzz!” teriakannya melengking-lengking, seperti nggak peduli kalau ada yang dengar. Aku semakin bernafsu, keringatku bercucuran, penisku terasa semakin tegang dan mau meledak dan terasa panas sekali seperti gunung mau memuntahkan laharnya. “Maahh.. ooghhzz Maahh Nonooknya gilaa empot ayaamm!”

“Goyaangg teruuss oogghh yuu bareeng keluariin Maahhggzz!
Kami semakin menggila saja, aku menusukkan batang penisku dan mencabutnya setiap “setengah detik” sekali, dan goyangan pantat dan pinggul Rita semakin menjadi-jadi. Tempat tidur semakin ramai berderit-derit, keringat kami bercucuran seperti mandi sambil bersenggama, atau bersenggama sambil mandi, bercampur menjadi satu menambah kenikmatan dan rasa menyatu yang bukan main indahnya. Rita semakin menggila, mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem-melek. Kucium dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, jidatnya, ludahnya kusedot dalam-dalam. Rita menggigit lidahku keras sekali sampai aku menjerit kesakitan. Itu tandanya Ritaku mau ejakulasi dan klimaks. Kukuatkan agar cairan air sorgaku nggak muncrat dulu sampai Ritaku mencapai klimaksnya. Tiba-tiba..

“Paahh oogghh aduuhh Maamah keluuaarr ooghh aduuhh gilaa oowwhzz aahh Papaahh.. uughh uughh uugghh”, dia sekali lagi menggigit lidahku sampai berdarah barangkali, sambil mencubit keras pahaku, itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa. Aku tak peduli apapun yang dilakukan Ritaku demi kepuasan kekasihku ini. Aku terus menggenjotkan penisku semakin gila dan rasanya sudah nggak tahan lagi menahan spermaku muncrat di vaginanya yang kusayangi. Rita sudah kepayahan rupanya, katanya vaginanya terasa ngilu kalau dia keluar duluan dan aku masih semangat menggenjotkan penisku keluar masuk vaginanya.

“Cepeet doong yaang aach Mamaah capee”, katanya dan akhirnya.. “Ooogghh.. Maahh.. Papah jugaa keluaarr.. ooghh.. ooghh.. ooghh.. Mamaahh.. aduuhh eemmhhzz! Kami sama-sama meregang, mengejang, mendelik, menggelepar, seakan jiwa raga kami terbang ke angkasa luas nan indah, ke alam surgawi dunia fana entah sampai kapan kami akan memagut cinta, tapi rasanya memang sulit berpisah. Kupeluk dan kucium Ritaku yang terkulai puas dengan senyuman tersungging di bibirnya yang merah muda tanpa gincu. Kulumat lagi bibirnya habis-habisan, dia melenguh manja dengan mata tertutup letih tanda puas yang luar biasa. “Paahh, Mamah cinta.. jangan tinggalin Mamah ya sayaang!” Aku mengangguk saja karena aku pun sangat mencintainya. Kemudian Rita dan aku rupanya tertidur pulas dalam keadaan berpelukan mesra dan bugil dan penisku masih sedikit menancap di vaginanya. Kulihat jam tanganku sudah menunjukan jam dua pagi. Hawa dingin kota Bandung dan ketika aku tersadar bahwa kekasihku masih tergolek mesra di pelukanku dengan telanjang bulat, nafsuku mulai bangkit kembali dan penisku sedikit demi sedikit mulai menegang dan keras kembali.

Kubangunkan Ritaku, dia terbangun kami sama-sama berciuman kembali walaupun belum gosok gigi. Tapi cinta mengalahkan segalanya, semuanya terasa indah dan harum wangi. Rita juga kemudian terangsang kembali dan kami bersenggama lagi habis-habisan sampai jam empat pagi sampai seluruh badan terasa lemas dan lunglai. Nggak apa, kami makan apa saja yang membuat tubuh segar kembali dengan memesan ke Room Service. Hari Sabtu pagi sampai siang hari kami terus tidur berpelukan mesra, pintu kamar terus berstatus “DO NOT DISTURB” sebab ada dua sejoli yang sedang memagut kasih, dan sampai Minggu pagi kami terus bercinta dan bersetubuh tak bosan-bosannya sampai tujuh kali.

Minggu siang sekitar jam 12.00 Togar datang sesuai janji untuk mengantarkan Rita pulang, sambil mendropku di stasiun kereta api. Oh, setianya Batak satu ini, benar-benar kawan sejati dia. Dia cuma cengar-cengir penuh arti ketika bersalaman di stasiun dan berpisah denganku. Dari mobil, Rita melambaikan tangan dan menempelkannya di bibirnya. “Hati-hati kau bawa dia kawan, dia sedang mengandung anakku, cari jalan yang mulus!” perintahku pada Togar. “Siap boss, akan kulaksanakan perintahmu!” katanya tegas. Batak ini memang tegas dan kasar, tapi hatinya sangat lembut dan baik. Sekali lagi aku berpelukan dengan Togar, sebelum Kijangnya yang membawa Rita hilang dari pandanganku.
Aku berjanji pada Rita untuk sesering mungkin datang ke Bandung, tak peduli apakah si Yudi keluar kota atau tidak sebab cinta kami begitu indah

THE END



Disqus Shortname

Comments system